BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Fenomena antrean panjang BBM di Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir membuka mata banyak pihak soal tingginya ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak. Saat distribusi terganggu atau pasokan terbatas, mobilitas warga ikut terdampak, mulai dari aktivitas kerja, sekolah, hingga perdagangan harian.
Berkaca dari fenomena tersebut, muncul gagasan menarik yakni bagaimana jika Kuala Kapuas justru mengambil peluang dengan membangun sistem mobilitas yang lebih sehat dan hemat energi, meniru konsep kota-kota di Belanda?
Kuala Kapuas dinilai memiliki modal geografis yang cukup ideal untuk mengembangkan budaya bersepeda. Wilayah kota relatif datar, jarak antartitik aktivitas utama cukup dekat, minim truk dan debu serta lalu lintas yang masih jauh lebih terkendali dibanding kota besar lain.
Perjalanan dari kawasan permukiman menuju pusat pemerintahan, sekolah, pasar, hingga kawasan tepian sungai masih memungkinkan ditempuh dengan sepeda atau berjalan kaki. Ini menjadi peluang besar untuk membangun identitas kota berbasis mobilitas ramah lingkungan.
Jika diterapkan secara serius, Kuala Kapuas bahkan bisa menjadikan konsep ini sebagai trade mark daerah.
Bayangkan Kuala Kapuas dikenal sebagai “Kota Sepeda Sungai” di Kalimantan. Warga terbiasa bersepeda ke kantor, pelajar menggunakan sepeda ke sekolah, sementara wisatawan dapat menikmati city tour dengan jalur sepeda menyusuri kawasan kota lama, waterfront, hingga pusat kuliner lokal.
Konsep tersebut bukan hanya soal transportasi, tetapi juga gaya hidup.
Budaya bersepeda mendorong masyarakat lebih aktif bergerak, menekan pengeluaran bahan bakar rumah tangga, serta memperkuat citra kota sehat. Dalam jangka panjang, kualitas udara lebih baik dan tingkat kemacetan bisa tetap terkendali meski kota berkembang.
Dari sisi pariwisata, ini justru punya nilai jual yang unik.
Di tengah dominasi kota-kota yang berorientasi kendaraan bermotor, Kuala Kapuas bisa tampil berbeda dengan menyediakan paket wisata sepeda keliling kota, penyewaan sepeda publik, hingga event rutin seperti car free day, festival sepeda vintage, atau touring wisata heritage dan sungai.
Wisatawan dari luar daerah dapat merasakan pengalaman berbeda: menikmati suasana kota kecil yang santai, sehat, dan dekat dengan alam.
Namun, konsep ini tentu tidak cukup hanya mengandalkan semangat warga.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan fondasi pendukung, seperti jalur sepeda khusus di ruas utama, area parkir sepeda aman, trotoar nyaman, taman istirahat, hingga integrasi angkutan umum untuk rute lebih jauh.
Selain itu, perlu kampanye budaya baru agar bersepeda tidak dipandang sekadar aktivitas olahraga, tetapi bagian dari mobilitas harian yang praktis.
Fenomena BBM di Palangka Raya seolah menjadi alarm regional bahwa kota-kota di Kalimantan perlu mulai memikirkan sistem transportasi masa depan.
Alih-alih hanya menunggu krisis berikutnya, Kuala Kapuas justru punya kesempatan mencuri start. Dengan skala kota yang masih manageable, konsep mobilitas ala Belanda lebih realistis diterapkan sekarang daripada saat kota sudah padat.
Jika berhasil, Kuala Kapuas tak hanya menjadi kota yang lebih hemat energi, tetapi juga punya identitas kuat yakni kota sehat, ramah pesepeda, dan destinasi wisata urban unik di Kalimantan Tengah. (SABRIANOOR/H)









