PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki musim kemarau tahun ini.

Herman menjelaskan musim kemarau bukan berarti tidak akan terjadi hujan. Namun intensitas hujan diperkirakan menurun dan jaraknya semakin berjauhan disertai suhu panas yang meningkat.

“Kemarau itu tetap ada hujan, tapi intensitasnya di bawah normal dan waktunya berjarak, jadi tidak setiap hari turun hujan. Yang kita khawatirkan adalah kelembapan tinggi dan panas yang semakin ekstrem,” kata Herman, Sabtu, 9 Mei 2026.

Menurutnya, tren kemarau di Kabupaten Pulang Pisau diperkirakan mulai terasa pada dasarian ketiga Mei 2026 atau sekitar 10 hari terakhir bulan tersebut.

“Setelah tanggal 21 Mei nanti, kecenderungannya jumlah hujan akan semakin sedikit, jarak hujan makin panjang, dan situasi akan semakin panas,” ujarnya.

Kondisi ini dinilai dapat memicu terjadinya karhutla, terutama di wilayah gambut seperti Kabupaten Pulang Pisau. Meski demikian, Herman menegaskan sebagian besar kebakaran bukan disebabkan faktor alam.

“Kalau saya mengatakan 90 persen lahan gambut tidak terbakar karena alam, tetapi karena ulah manusia. Alam tidak akan pernah membakar dirinya sendiri kalau tidak ada faktor manusia,” tegasnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan tetap menjaga lingkungan selama musim kemarau berlangsung.

"Imbauan kami kepada masyarakat supaya tetap menjaga lingkungan. Kita selalu bicara pencegahan, karena biaya pencegahan jauh lebih murah dibandingkan penanganan kebakaran,” ucap Herman.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah, akademisi, hingga berbagai lembaga penanggulangan bencana dapat terus diperkuat dalam menghadapi ancaman karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Pulang Pisau.( RETHA)