JAKARTA –

BORNEONEWS, Pontianak – Kalimantan Barat dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat konektivitas dan hub logistik internasional. Potensi tersebut didukung posisi geostrategis Kalbar yang berada di jalur perdagangan regional dan internasional.

Pengamat transportasi intermoda Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie AH.PNB SE.SSIT, mengatakan posisi Kalbar sangat strategis karena memiliki akses transportasi darat, laut, dan udara.

“Kalbar memiliki posisi yang sangat strategis, baik dari sisi jalur darat, laut maupun udara. Ini menjadi peluang besar agar Kalbar mampu menjadi pusat distribusi dan perdagangan internasional,” kata Syarif di Pontianak, Sabtu, 9 Mei 2026.

Menurutnya, peluang Kalbar menjadi pemain penting dalam perdagangan global semakin terbuka di tengah perubahan politik dan ekonomi dunia yang bergerak cepat.

Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang tepat, percepatan pembangunan infrastruktur, serta penguatan konektivitas transportasi yang terintegrasi antarmoda.

Syarif menilai sistem konektivitas mulai dari jalan kabupaten, kota, provinsi hingga nasional harus saling terhubung dengan baik. Selain itu, kualitas jalan juga perlu memenuhi standar, terutama jika digunakan untuk jalur distribusi logistik dan angkutan kontainer.

“Jika jalur distribusi digunakan untuk angkutan kontainer, maka kualitas jalan harus memenuhi standar jalan kelas satu agar tidak cepat rusak akibat beban logistik yang tinggi,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi infrastruktur jalan di Kalbar masih menjadi salah satu tantangan utama. Jika tidak segera dibenahi, hal itu dapat menghambat pengembangan ekonomi daerah dan menurunkan daya saing logistik.

Karena itu, ia mendorong pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan legislatif memperjuangkan pembangunan serta penguatan infrastruktur transportasi dengan dukungan anggaran yang memadai.

Syarif juga menyoroti keberadaan Pelabuhan Kijing sebagai aset strategis Kalbar. Pelabuhan tersebut berada di jalur Laut Natuna yang menjadi lintasan perdagangan Asia Pasifik.

Menurutnya, Pelabuhan Kijing berpotensi menjadi pusat distribusi nasional maupun internasional karena dapat melayani kapal besar dengan kapasitas puluhan ribu ton.

“Pelabuhan Kijing bisa menjadi hub logistik nasional untuk Kalimantan bahkan menjadi pintu ekspor ke negara seperti China, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang,” katanya.

Ia menambahkan, perpindahan pusat pemerintahan ke Kalimantan Timur juga dapat menjadi momentum bagi Kalbar untuk memperkuat perannya sebagai jembatan perdagangan internasional dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan barat Pulau Kalimantan.

Meski demikian, Syarif menegaskan pengembangan industri hilirisasi harus menjadi prioritas. Dengan begitu, komoditas unggulan Kalbar tidak lagi hanya dikirim dalam bentuk bahan mentah.

“Kita harus memiliki industri pengolahan sehingga produk yang dikirim keluar daerah maupun luar negeri sudah dalam bentuk barang jadi sesuai arah kebijakan hilirisasi nasional,” tuturnya.

Selain sektor laut dan darat, potensi ruang udara Kalbar juga dinilai strategis karena menjadi lintasan penerbangan internasional.

Syarif mengatakan keberadaan Bandar Udara Internasional Supadio sebagai airport of entry dapat memberi dampak ekonomi, mulai dari peningkatan perdagangan, pajak, devisa, hingga peluang investasi asing langsung.

“Bandara internasional di Kalbar memiliki peluang besar untuk mendatangkan investasi langsung dari luar negeri karena posisi geografisnya sangat strategis,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah pusat dan daerah memperkuat sinergi dalam mempercepat pembangunan infrastruktur strategis, terutama konektivitas jalan menuju dan dari Pelabuhan Kijing.

Menurutnya, potensi sumber daya alam Kalbar yang melimpah harus didukung sistem distribusi yang aman, nyaman, dan efisien agar mampu meningkatkan daya saing daerah di tingkat global.

ANTARA