JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria menilai permainan tradisional seperti egrang dapat menjadi ruang jeda bagi anak dari tingginya aktivitas di dunia digital.

Menurutnya, permainan fisik mampu membantu anak menjaga keseimbangan emosional, membangun interaksi sosial, serta mendukung kesehatan mental.

“Permainan egrang bisa menjadi satu tombol pause, tombol jeda dari intensitas yang begitu tinggi masuknya kita ke ruang digital. Permainan fisik seperti ini memberikan banyak pelajaran tentang keseimbangan, kerja sama, dan gotong royong,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu, 10 Mei 2026.

Nezar mengatakan, permainan tradisional tetap relevan di tengah kehidupan anak-anak yang saat ini semakin dekat dengan perangkat digital. Perkembangan teknologi memang membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan baru bagi tumbuh kembang anak.

Ia menyebut, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 80,26 persen populasi, dengan sekitar 230 juta masyarakat terkoneksi internet. Selain itu, jaringan telekomunikasi juga telah menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni.

Di balik capaian tersebut, Nezar mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi sosial di dunia nyata.

“Saat ini kita tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi hidup di dalamnya. Ada banyak permainan anak yang mulai tergusur oleh ruang digital. Egrang menjadi salah satu yang tetap bertahan karena dijaga bersama oleh komunitas,” katanya.

Menurut Nezar, perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dilakukan melalui regulasi platform digital. Upaya itu juga harus dibarengi dengan penguatan lingkungan sosial yang sehat di dunia nyata.

“Bermain egrang bukan sekadar permainan tradisional. Anak-anak kembali berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, belajar menjaga keseimbangan, belajar bekerja sama, dan membangun keberanian melalui pengalaman nyata,” tuturnya.

Ia juga menyoroti nilai karakter yang tumbuh dari permainan tradisional. Melalui egrang, anak-anak belajar bangkit saat jatuh, saling menyemangati, dan membangun keberanian tanpa saling mengejek.

Nezar berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga kuat secara emosional dan sosial.

“Saya percaya setiap anak Indonesia bisa menjadi tunas yang tumbuh sehat, baik di dunia nyata maupun di dunia digital, untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat dan lebih hebat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, semangat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS perlu berjalan seiring dengan penguatan peran keluarga dan komunitas.

Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengapresiasi Festival Egrang Ledokombo sebagai ruang budaya dan sosial yang membantu anak tumbuh sehat di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.

ANTARA