BORNEONEWS, Samarinda - Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam, Kalimantan Timur, Raden Roro Rani Meita Pratiwi mengingatkan pentingnya mengelola kecemasan dalam dunia kerja.
Menurutnya, kecemasan yang tidak dikendalikan dengan baik dapat mengganggu produktivitas, konsentrasi, serta kesehatan mental pekerja.
Rani mengatakan, kecemasan dalam pekerjaan kerap muncul karena adanya ketidakpastian. Hal itu bisa berkaitan dengan keamanan posisi kerja, perubahan kebijakan perusahaan, tekanan ekonomi, maupun beban kerja yang terus meningkat.
“Kecemasan sering muncul karena adanya ketidakpastian, seperti kekhawatiran apakah posisi pekerjaan saat ini aman, adanya perubahan kebijakan, hingga tekanan ekonomi,” kata Rani di Samarinda, Minggu, 10 Mei 2026.
Selain itu, rutinitas yang berulang, kurangnya apresiasi di tempat kerja, hingga masalah pribadi yang terbawa ke kantor juga dapat memicu kecemasan.
Ia mengingatkan, pekerja perlu waspada apabila kecemasan mulai mengganggu aktivitas harian. Tanda-tandanya antara lain sering merasa lelah, jenuh, sulit berkonsentrasi, hingga mudah tersinggung saat berinteraksi dengan rekan kerja.
“Gejala seperti menjadi sensitif atau mudah tersinggung saat berinteraksi dengan rekan kerja merupakan tanda seseorang sedang mengarah pada kondisi keletihan mental,” ungkapnya.
Rani menjelaskan, stres dan kecemasan memiliki perbedaan. Stres biasanya muncul karena sumber masalah yang jelas dan dapat mereda setelah persoalan selesai. Sementara kecemasan lebih banyak dipicu oleh pikiran terhadap kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Untuk mengatasinya, pekerja disarankan tidak memaksakan diri menyelesaikan semua masalah sekaligus. Sebaliknya, fokus pada tugas yang sedang dikerjakan selama waktu kerja dapat membantu menurunkan tekanan mental.
Saat merasa panik, pekerja juga dianjurkan memperlambat gerakan fisik dan mengatur napas. Cara ini dapat membantu menurunkan detak jantung serta meredakan ketegangan tubuh.
“Kesadaran untuk hadir di masa kini sangat penting karena cemas berlebihan terhadap hal yang belum pasti hanya akan merenggut kebahagiaan,” katanya.
Rani juga menyarankan olahraga ringan seperti berjalan kaki. Aktivitas sederhana tersebut dinilai dapat membantu tubuh menghasilkan hormon kebahagiaan sekaligus menjadi ruang untuk menenangkan pikiran.
Di lingkungan kerja, pekerja juga perlu berani menerima masukan dan melakukan perbaikan. Menurutnya, memperbaiki kesalahan jauh lebih penting daripada hanya meminta maaf atas kesalahan yang terus berulang.
Rani menambahkan, kunci menjaga kesehatan mental adalah kemampuan bertahan, beradaptasi, dan terus meningkatkan kapasitas diri di tengah berbagai situasi hidup yang tidak pasti.
ANTARA









