KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Topik mengenai besaran jujuran serta konsep pelaksanaan pernikahan menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat. Diskusi ringan yang berlangsung di grup Media Informasi by Story Kapuas dan diikuti sebagian kalangan muda warga Kapuas menunjukkan beragam pandangan mengenai standar pernikahan yang dinilai ideal di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Dari pilihan yang masuk dalam diskusi tersebut, kisaran jujuran Rp25 juta hingga Rp50 juta menjadi opsi terbanyak dengan 12 suara. Sebagian peserta menilai nominal tersebut masih berada di titik tengah, yakni cukup realistis secara ekonomi namun tetap dianggap mampu menjaga penghormatan terhadap adat.

Pilihan jujuran di bawah Rp10 juta memperoleh lima suara. Opsi ini dipilih peserta yang menilai biaya pernikahan sebaiknya tidak membebani kondisi finansial pasangan maupun keluarga, terutama di tengah inflasi, meningkatnya kebutuhan hidup, dan persaingan kerja yang semakin ketat.

“Hal ini tidak boleh menjadi budaya. Makin tahun inflasi makin tinggi, persaingan kerja makin sulit, sedangkan pendapatan statis. Setelah acara juga harus dipikirkan, apakah harus berutang atau tidak,” tulis salah satu peserta dalam diskusi tersebut.

Sementara itu, pilihan di atas Rp50 juta juga memperoleh lima suara. Bagi sebagian peserta, nominal besar masih dipandang sebagai simbol kesungguhan laki-laki, penghormatan kepada keluarga perempuan, sekaligus representasi kesiapan membangun rumah tangga.

Adapun kisaran Rp10 juta hingga Rp25 juta menjadi opsi dengan jumlah pemilih paling sedikit. Kondisi ini memperlihatkan adanya kecenderungan pilihan yang cukup kontras antara kelompok yang lebih menekankan efisiensi ekonomi dan kelompok yang tetap mempertahankan nominal lebih tinggi karena pertimbangan adat maupun nilai simbolik.

Diskusi juga berkembang pada konsep pelaksanaan acara. Salah satu peserta bernama Nandhita mengaku lebih menyukai konsep pernikahan sederhana atau intimate wedding. 

“Aku maunya nikah sederhana, cukup di masjid lalu makan bersama keluarga dekat saja,” ujarnya.

Namun, pandangan tersebut mendapat respons berbeda dari peserta lain. Qosam menilai keinginan pernikahan sederhana tidak selalu mudah diterapkan.

“Masih banyak yang orangnya atau keluarganya ingin terlihat bergengsi atau sekadar memenuhi ekspektasi tetangga,” katanya.

Di sisi lain, Melda Febrianti turut membagikan pengalamannya terkait pernikahan.

“Tidak usah menikah jika tidak mampu, dunia pernikahan itu tidak seasyik dunia bujangan juga” ungkapnya.

Diskusi ini menunjukkan bahwa pembahasan pernikahan di masyarakat bukan hanya soal nominal jujuran atau pesta semata, tetapi juga merupakan gambaran yang melibatkan pertimbangan ekonomi, adat, ekspektasi keluarga, serta tekanan sosial yang masih cukup kuat dirasakan sebagian kalangan muda. (SABRIANOOR/H)