BORNEONEWS, Tamiang Layang – Tim gabungan Pemerintah Kabupaten Barito Timur bersama aparat TNI dan Polri memperketat pengawasan distribusi serta penjualan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Longkang dan sejumlah pedagang eceran, Senin, 11 Mei 2026.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan penyaluran BBM tetap terkendali di tengah meningkatnya antrean masyarakat akibat keterlambatan pasokan dari depo Banjarmasin.
Asisten I Setda Barito Timur, Ari Panan P Lelu menjelaskan bahwa tim gabungan turun langsung ke lapangan guna memantau distribusi BBM sekaligus mengantisipasi praktik penjualan yang berpotensi merugikan masyarakat. Menurut dia, keterlambatan distribusi terjadi karena penyesuaian harga baru yang mulai berlaku sejak 30 April 2026.
“Pengiriman dari depo Banjarmasin saat ini memang belum normal karena ada kenaikan harga, sehingga pihak penyalur harus menyesuaikan dengan harga baru,” katanya usai meninjau di SPBU Longkang.
Ari Panan menjelaskan, SPBU Longkang menerima pasokan Pertamax sebanyak 8 ribu liter dalam sekali pengiriman, dengan harga Rp12.600 per liter. Untuk menjaga pemerataan distribusi, pengisian kendaraan roda empat dibatasi maksimal Rp500 ribu, sedangkan roda dua maksimal Rp160 ribu.
Sementara Pertalite juga tersedia sebanyak 8 ribu liter dengan harga Rp10 ribu per liter, dengan batas pembelian roda empat Rp400 ribu dan roda dua Rp100 ribu.
Selain itu, BBM jenis Dex tersedia sebanyak 8 ribu liter dengan harga Rp26.600 per liter. Adapun Bio Solar juga didistribusikan sebanyak 8 ribu liter dengan harga Rp6.800 per liter dan dibatasi maksimal Rp400 ribu per kendaraan.
Pemerintah daerah menilai pembatasan tersebut penting agar stok BBM dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Dalam pengawasan di lapangan, tim gabungan juga mengatur sistem antrean di SPBU agar tetap tertib dan aman. Ari Panan menyebutkan, pihak pengelola membagi empat jalur antrean untuk mengurangi kepadatan kendaraan di area pengisian.
“Di SPBU dilakukan pembagian empat jalur antrean, yakni dua jalur untuk roda empat sesuai posisi tangki kiri dan kanan, serta dua jalur khusus roda dua agar antrean lebih tertib dan aman,” ujarnya.
Tidak hanya di SPBU, tim gabungan turut memantau harga jual BBM di kios dan warung pengecer di sekitar wilayah Longkang hingga Desa Kandris Kecamatan Benua Lima. Dari hasil pengecekan, rata-rata Pertamax dijual Rp15 ribu per liter, sedangkan Pertalite Rp13 ribu per liter.
Pemerintah daerah mengingatkan para pedagang agar tidak menaikkan harga secara berlebihan di tengah kondisi pasokan yang masih terbatas.
Ari Panan juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan mematuhi aturan antrean saat membeli BBM. Ia meminta warga memanfaatkan Pertashop yang masih memiliki kuota sekitar 3 ribu liter untuk membantu mengurangi kepadatan antrean di SPBU.
“Jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan tidak wajar dari situasi ini. Pemerintah akan terus melakukan pemantauan agar distribusi BBM tetap berjalan baik dan masyarakat tetap terlayani,” tegasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









