JAKARTA –

BORNEONEWS, Berlin - Kepala Badan Jaringan Federal Jerman atau Federal Network Agency, Klaus Mueller, menyatakan harga gas di Jerman berpotensi naik akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

“Konsekuensi dari konflik terkait Iran dirasakan oleh semua orang yang harus membeli gas di bursa,” kata Mueller dalam wawancara dengan grup media RND, dikutip dari Sputnik/RIA Novosti, Selasa, 12 Mei 2026.

Mueller mencatat sebagian besar rumah tangga di Jerman saat ini masih mendapat jaminan harga gas yang tidak berubah, setidaknya dalam kurun waktu 12 bulan.

“Akan tetapi, jika kontrak baru disepakati, maka harga bisa naik,” ujarnya.

Meski demikian, Mueller memperkirakan kenaikan harga gas tidak akan berlangsung secepat lonjakan yang terjadi setelah konflik di Ukraina dimulai pada 2022.

Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mulai menyerang sejumlah target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian melakukan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Meningkatnya konflik di kawasan tersebut turut menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama pasokan minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia menuju pasar global.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada stabilitas pasokan energi dan memicu tekanan harga gas di pasar internasional.

ANTARA