SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Wakil Ketua I DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Juliansyah menekankan pentingnya tanggung jawab perusahaan terhadap program bantuan angkutan sekolah bagi pelajar di Desa Tumbang Koling, Kecamatan Cempaga Hulu.

Ia menilai bantuan transportasi pendidikan memang sangat membantu masyarakat di wilayah pedalaman, namun perusahaan tidak boleh hanya sekadar menyediakan kendaraan tanpa memperhatikan aspek keselamatan.

"Kami tegaskan kepada PT BHL untuk memberikan kendaraan yang layak jalan dan tidak terkesan asal-asalan," ujar Juliansyah, Rabu, 13 Mei 2026.

Armada yang digunakan untuk mengangkut pelajar setiap hari wajib memenuhi standar keamanan dan kelayakan operasional agar tidak membahayakan siswa.

Ia menegaskan perusahaan harus benar-benar memastikan kondisi kendaraan yang dipinjamkan sebagai bus sekolah berada dalam keadaan baik dan aman digunakan.

Juliansyah mengingatkan jangan sampai bantuan yang seharusnya mendukung akses pendidikan justru menimbulkan risiko keselamatan akibat kendaraan yang kurang perawatan atau tidak layak jalan.

Selain itu, ia meminta pemerintah daerah ikut melakukan pengawasan terhadap seluruh armada bus sekolah bantuan perusahaan yang beroperasi di wilayah Kotim, terutama di daerah pedalaman.

"Pemda juga harus cek setiap bus yang katanya diperbantukan untuk angkutan pelajar, apakah layak dan aman digunakan, jangan asal-asalan," tambahnya.

Menurutnya, pengawasan pemerintah sangat diperlukan agar bantuan dari perusahaan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menilai keselamatan pelajar harus menjadi perhatian bersama, baik perusahaan maupun pemerintah daerah, karena kendaraan sekolah digunakan setiap hari oleh anak-anak untuk menunjang pendidikan mereka.

Lebih lanjut, ia menegaskan perusahaan yang beroperasi di daerah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap bantuan sosial yang diberikan benar-benar berkualitas, aman dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi pelajar di kawasan pedalaman. (DEWI PATMALASARI/H)