SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dua ekor beruang terekam video warga saat berada di kawasan ladang di wilayah Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Video tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

Dalam rekaman berdurasi sekitar 20 detik itu, terlihat dua anak beruang berjalan menjauh dari sebuah pondok tempat warga merekam keberadaan satwa liar tersebut. Kedua beruang tampak berada di area ladang atau kebun warga pada siang.

"Boneka bukan tapi lucu2 muncul dikebun warga katanya malam darat kawasan Samuda," demikian narasi dalam unggahan video tersebut.

Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah saat ini masih melakukan penelusuran untuk memastikan lokasi kemunculan satwa liar tersebut.

"Kalau di narasinya disebut di Samuda. Dari hasil pengamatan video, lokasinya di ladang dan beruangnya berjumlah dua ekor yang masih anak-anak. Untuk lokasi pastinya masih kami telusuri," ujarnya, Rabu, 13 Mei 2026.

Ia mengungkapkan, sebelum munculnya video beruang muncul di Samuda dan video beruang di Kecamatan Cempaga yang saat ini sedang ditelusuri, pihaknya juga menerima laporan kemunculan beruang di Desa Kandan, Kecamatan Kotabesi sekitar sepekan lalu.

Terkait kemunculan beruang di Desa Kandan tersebut setelah laporan tersebut diterima, keberadaan beruang tidak lagi terlihat di lokasi dan diduga hanya melintas di kawasan itu.

Muriansyah menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan beruang mulai mendekati kawasan ladang hingga permukiman warga. Faktor utama adalah kerusakan habitat yang membuat satwa tersebut kesulitan mendapatkan sumber makanan di alam.

Selain itu, kondisi cuaca dan musim kemarau juga mempengaruhi ketersediaan makanan dan air di habitat asli beruang sehingga mendorong satwa keluar mencari makan.

"Saat kemarau, di habitatnya beruang kekurangan makan dan minum. Akhirnya mereka keluar mencari makan ke wilayah kebun atau permukiman," tambahnya.

Menurutnya, keberadaan tanaman buah milik warga seperti nangka, nanas, buah naga, rambutan hingga cempedak menjadi daya tarik bagi beruang untuk mendekati area kebun dan pemukiman.

Tidak hanya itu, sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan juga menjadi pemicu satwa liar datang ke lingkungan warga.

"Beruang juga memakan sisa sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Biasanya di wilayah dekat semak belukar seperti di kawasan Kelurahan Baamang Barat masih ada warga yang membuang sampah di belakang rumah atau di tepi jalan," katanya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak mendekati ataupun mencoba mengusir beruang secara langsung karena dapat memicu konflik berbahaya antara manusia dan beruang.

Selain itu, warga diminta menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan untuk mengurangi potensi kemunculan beruang di sekitar permukiman. (DEWI PATMALASARI/j)