JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Pertanian atau Kementan meminta Badan Gizi Nasional atau BGN menambah frekuensi penggunaan daging ayam dan telur dalam menu Program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung penyerapan produksi peternak lokal, sekaligus menjaga stabilitas harga ayam dan telur di tingkat peternak.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda mengatakan, saat ini komoditas daging ayam dan telur berada dalam kondisi surplus. Bahkan, sebagian produksi telah diekspor ke sejumlah negara.

“Adanya Program MBG ini justru bisa menstabilkan harga daging ayam dan telur di Tanah Air karena sebelum ada program ini harga di tingkat peternak sangat fluktuatif,” kata Agung dalam konferensi pers di Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Agung menjelaskan, Kementan telah menggelar pertemuan dengan sejumlah asosiasi terkait yang turut dihadiri perwakilan BGN. Pertemuan itu membahas upaya memperkuat penyerapan daging ayam dan telur dari peternak lokal.

Selain itu, Kementan juga telah bersurat kepada Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN. Dalam surat tersebut, Kementan meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG menyerap ayam dan telur dari peternak di wilayah masing-masing.

Kementan juga mendorong agar menu ayam dan telur dalam Program MBG tidak hanya disajikan dua kali dalam sepekan, tetapi ditambah frekuensinya.

“Yang kedua juga meminta agar menu Makan Bergizi khususnya untuk daging ayam dan telur itu frekuensinya ditambah. Bukan dua kali per minggu, kita minta bahkan bila perlu setiap hari begitu untuk menambah serapan,” ujarnya.

Agung menambahkan, Kementan juga meminta agar pembelian ayam dan telur dalam Program MBG mengacu pada harga acuan pemerintah.

Permintaan itu disampaikan karena harga telur dan ayam hidup di tingkat peternak saat ini turun di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Dengan penyerapan melalui 28.390 SPPG yang menjalankan Program MBG, Kementan berharap produksi daging ayam dan telur dapat terserap lebih optimal.

“Saat ini posisinya masih surplus. Mudah-mudahan kalau 30 ribu SPPG sudah beroperasi, harapannya tentu bisa menyerap produksi daging ayam dan telur kita dan tidak mempengaruhi pada harga di tingkat peternak,” tutur Agung.

ANTARA