BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Aktivitas wisata susur sungai menuju kawasan Taman Nasional Tanjung Puting mulai dibayangi persoalan bahan bakar minyak (BBM). Para pelaku usaha klotok wisata di Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mengaku kesulitan memperoleh BBM setelah SPBU tidak lagi memperbolehkan pembelian menggunakan galon.
Kondisi tersebut membuat operasional kapal wisata menjadi tidak menentu, di tengah meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, khususnya turis mancanegara yang datang menikmati wisata alam dan melihat habitat orangutan di kawasan konservasi tersebut.
Selama ini, pembelian BBM menggunakan galon menjadi cara paling memungkinkan bagi pengusaha klotok untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal yang beroperasi selama beberapa hari menyusuri jalur sungai menuju Tanjung Puting.
Sekretaris Himpunan Klotok Wisata Kumai, Ahmad Yani, mengatakan keluhan terkait sulitnya mendapatkan BBM hampir setiap hari disampaikan para pelaku usaha wisata kepadanya.
“Dulu masih bisa beli pakai galon, sekarang sudah tidak diperbolehkan lagi. Akhirnya teman-teman kesulitan untuk melayani wisatawan,” kata Ahmad Yani, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurut dia, sebagian pengusaha klotok kini terpaksa membeli BBM dari pengecer dengan harga jauh lebih tinggi dibanding harga resmi di SPBU.
“Kalau beli dari pengecer, untuk 20 liter bisa sampai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Ini sangat memberatkan karena biaya operasional jadi naik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan bahan bakar untuk satu klotok wisata tidak sedikit. Dalam satu perjalanan wisata selama tiga hingga empat hari, kapal dapat menghabiskan sekitar 60 hingga 80 liter BBM.
Sementara itu, harga BBM resmi di SPBU masih berada di kisaran Rp24.500 per liter. Namun, para pengusaha mengaku tidak lagi memiliki akses membeli dalam jumlah cukup karena adanya larangan penggunaan galon untuk pengisian BBM.
Ahmad Yani berharap pemerintah daerah dapat segera mencarikan solusi agar aktivitas wisata sungai di Kumai tidak terganggu dan pelayanan terhadap wisatawan tetap berjalan optimal.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah supaya wisata di Kumai tetap berjalan lancar. Jangan sampai wisatawan kecewa dan pelaku usaha kecil semakin kesulitan,” harapnya.
Ia menambahkan, klotok wisata selama ini menjadi salah satu wajah pariwisata unggulan Kotawaringin Barat yang telah dikenal hingga mancanegara, sehingga keberlangsungan operasional wisata sungai perlu mendapat perhatian bersama. (DANANG/H)









