BORNEONEWS, Sampit – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, agar bijak mengelola keuangan supaya terhindar dari praktik pinjaman online ilegal (pinjol) dan judi online (judol).
Asisten Manajer Bidang Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Keuangan Daerah OJK Kalimantan Tengah, Khansa Muthia Rizkianti, mengatakan pemahaman pengelolaan keuangan sangat penting karena masalah finansial dapat berdampak pada kesehatan mental hingga kondisi keluarga.
"Tugas OJK adalah mengatur, mengawasi dan melindungi masyarakat dari aktivitas keuangan ilegal agar tidak mengalami kerugian," kata Khansa Muthia Rizkianti, Kamis, 14 Mei 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian, persoalan keuangan sering kali memicu tekanan mental dan konflik dalam keluarga. Karena itu, masyarakat perlu memahami cara mengatur keuangan dengan baik sejak dini.
Menurutnya, mahasiswa juga perlu memiliki kesadaran finansial agar tidak tergoda mencari uang instan melalui pinjaman online maupun judi online yang justru berujung masalah.
"Jangan sampai hanya karena ingin cepat mendapatkan uang malah terjerat pinjol dan judol yang akhirnya merugikan diri sendiri," ujarnya.
Khansa menekankan pentingnya mengatur alokasi pengeluaran secara seimbang, mulai dari kebutuhan hidup, cicilan, tabungan, investasi hingga gaya hidup.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memprioritaskan gaya hidup berlebihan dibanding kebutuhan utama yang jauh lebih penting.
"Kalau ada utang segera lunasi. Kalau bisa jangan sampai berutang. Jangan mudah terpengaruh opini orang lain dan prioritaskan kebutuhan lebih dulu," katanya.
Dalam edukasi tersebut, OJK juga membagikan sejumlah tips sederhana mengelola keuangan secara bijak. Pertama, masyarakat diminta membuat anggaran bulanan dengan membagi pengeluaran untuk kebutuhan dasar, tabungan, hiburan, dan sosial.
Kedua, memprioritaskan pelunasan utang secara bertahap dan menghindari meminjam uang untuk aktivitas berisiko seperti judi online.
Ketiga, mulai berinvestasi pada instrumen keuangan yang aman seperti deposito, reksa dana, dan saham guna mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Keempat, menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan serta menghindari pengeluaran impulsif yang dapat mengganggu stabilitas keuangan.
Khansa juga membagikan contoh pola alokasi anggaran sederhana, yakni 10 persen untuk ibadah dan sosial, 20 persen tabungan atau investasi, maksimal 30 persen untuk cicilan utang, dan 40 persen untuk biaya hidup sehari-hari.
Menurutnya, pengelolaan keuangan yang sehat menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga masa depan finansial agar lebih aman dan terhindar dari risiko masalah ekonomi di kemudian hari. (DEWI PATMALASARI/H)









