BORNEONEWS, Sampit - Suara gesekan logam dengan batu asah terdengar berulang dari sebuah ruko sederhana di Jalan Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di sudut ruangan itu, seorang pria tampak fokus menggerakkan tangannya perlahan, menajamkan bilah pisau hingga mengilap.
Pria itu adalah Surya Dinar atau yang akrab disapa Amang I’in. Dari tangan terampilnya, lahir berbagai pisau sembelih dan pisau seset daging yang kini banyak diburu masyarakat, terutama menjelang Hari Raya Iduladha.
Tak banyak yang menyangka, usaha rumahan yang kini menjadi sumber penghasilannya itu berawal dari kegemarannya mengoleksi pisau. Rasa penasaran untuk membuat pisau sendiri perlahan berubah menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
"Awalnya cuma suka pisau, lalu coba bikin sendiri. Lama-lama ternyata banyak yang suka. Dulu cuma teman-teman yang pesan, sekarang sudah jual untuk masyarakat umum," kata Amang I'in, Kamis, 14 Mei 2026.
Usaha tersebut sudah ia jalankan sekitar lima tahun terakhir. Menjelang Iduladha, pesanan mulai meningkat tajam. Agar mampu memenuhi permintaan pelanggan, Amang I’in bahkan mulai menyiapkan stok sejak dua bulan sebelumnya.
Di bengkel kecilnya, berbagai peralatan sederhana terlihat tersusun rapi. Gerinda, batu asah, hingga bahan baku berupa baja gergaji serkel menjadi bagian penting dalam proses produksi. Dari bahan itulah ia membentuk bilah pisau sembelih yang dikenal tajam dan kuat.
Meski tidak melalui proses tempa seperti pisau tradisional pada umumnya, hasil buatan Amang I’in tetap memiliki kualitas yang tidak kalah bersaing. Ia bahkan sempat menunjukkan ketajaman pisaunya dengan menyayat selembar kertas hingga terbelah rapi.
"Bahannya dari baja gergaji serkel, dibentuk pakai gerinda, lalu dipanaskan dan disepuh," ujarnya.
Menurutnya, bagian tersulit dalam membuat pisau adalah membentuk bilah agar benar-benar presisi dan tajam. Proses itu membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
Untuk menyelesaikan satu pisau sembelih lengkap dengan gagang dan sarungnya, ia membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Sedangkan pisau seset daging yang ukurannya lebih kecil bisa selesai dalam dua hari.
"Pisau sembelih panjangnya sekitar 25 sampai 40 sentimeter. Kalau pisau seset sekitar 15 sampai 20 sentimeter," tambahnya.
Tak hanya bilahnya yang menjadi perhatian, gagang pisau berbahan kayu ulin juga menjadi ciri khas tersendiri. Kayu khas Kalimantan itu dipilih karena dikenal kuat, awet, dan memiliki tampilan alami yang menarik. Sementara sarung pisaunya dibuat dari bahan kulit.
"Yang jadi pembeda itu di gagangnya pakai kayu ulin, jadi lebih khas dan kuat," tuturnya.
Pisau buatannya dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu untuk produk standar. Ia juga menjual pisau sembelih lokal premium dengan harga mencapai Rp1 juta, sementara produk impor bisa lebih mahal lagi.
Pisau sembelih dengan harga sekitar Rp500 ribu menjadi yang paling banyak diminati masyarakat. Namun bagi kolektor atau pecinta pisau yang memahami kualitas bahan, biasanya memilih produk dengan spesifikasi premium.
"Tiap pisau keuntungan sekitar Rp50 ribu untuk pisau seset daging. Kalau pisau sembelih bisa sampai Rp200 ribu, tergantung ukuran dan bahan," ungkapnya.
Momentum Iduladha tahun lalu menjadi salah satu periode penjualan terbaik baginya. Saat itu, ia berhasil menjual sekitar 40 pisau sembelih dan lebih dari 100 pisau seset daging.
Kini, hasil karya Amang I’in tidak hanya dikenal di Sampit. Pesanan juga datang dari luar Kalimantan, mulai dari Pulau Jawa hingga Sulawesi.
"Alhamdulillah sekarang sudah ada pelanggan dari luar Kalimantan juga. Terakhir kirim ke Palu," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









