BORNEONEWS, Palangka Raya - Komoditas minyak goreng menjadi salah satu penyumbang inflasi di Provinsi Kalimantan Tengah pada April 2026. Kenaikan harga minyak goreng tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen secara month to month atau m-to-m.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, inflasi Kalteng pada April 2026 secara bulanan tercatat sebesar 0,41 persen. Selain minyak goreng, komoditas lain yang turut memberi andil inflasi yakni beras, angkutan udara, bawang merah, dan tomat.
Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman mengatakan kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok masih memengaruhi pergerakan inflasi daerah, termasuk minyak goreng yang saat ini mengalami tekanan harga di pasaran.
“Minyak goreng menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi April 2026 dengan andil sebesar 0,05 persen,” ujarnya pada Kamis, 14 Mei 2026.
Menurut dia, kenaikan harga minyak goreng terjadi seiring meningkatnya harga di tingkat konsumen dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut juga dipengaruhi distribusi dan ketersediaan barang di pasar.
Belakangan, minyak goreng subsidi pemerintah merek Minyakita dilaporkan mengalami kelangkaan di sejumlah daerah di Kalimantan Tengah. Situasi itu menyebabkan harga jual di tingkat pengecer meningkat jauh di atas Harga Eceran Tertinggi atau HET yang telah ditetapkan pemerintah.
BPS mencatat komoditas pangan masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi inflasi daerah. Karena itu, kestabilan distribusi dan pasokan bahan pokok dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Selain minyak goreng, komoditas penyumbang inflasi terbesar pada April 2026 adalah beras dengan andil 0,10 persen, diikuti angkutan udara, bawang merah, dan tomat yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,05 persen.
Sebelumnya, Pemimpin Wilayah Bulog Kalteng melalui Humas Bulog Kalteng, Yuanlianardo mengatakan, dalam dua hari terakhir pihaknya telah menerima pasokan Minyakita yang langsung didistribusikan ke sejumlah titik penjualan.
“Kalau info terakhir, tim pemasaran kemarin dan hari ini ada masuk Minyakita, langsung dikirim ke Pasar Besar dan Pasar Kahayan,” kata Yuanlianardo.
Ia menjelaskan, penyaluran Minyakita oleh Bulog dilakukan secara rutin kepada para pengecer sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan minyak goreng subsidi di pasaran.
Selain itu, Bulog sebagai salah satu BUMN pangan mendapatkan alokasi distribusi sebesar 35 persen dari kebijakan Domestic Market Obligation atau DMO produsen minyak goreng.
“Untuk Minyakita sudah kita salurkan rutin ke pengecer, dan total kuota Minyakita untuk BUMN pangan mendapatkan 35 persen dari DMO produsen, salah satunya Bulog,” katanya.
Yuanlianardo menambahkan, pasokan minyak goreng yang didistribusikan Bulog juga berasal dari sejumlah produsen, yakni PT CBU, PT SSM, dan PT SAP.
Guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, Perum Bulog Kalteng juga telah berkoordinasi dengan para pengecer agar menjual Minyakita sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Upaya tersebut diharapkan dapat menekan lonjakan harga serta memastikan masyarakat tetap memperoleh minyak goreng subsidi dengan harga terjangkau di tengah tingginya permintaan pasca Idul Fitri. (TESTI PRISCILLA/H)









