KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Keterlibatan sejumlah remaja dalam kegiatan evakuasi seekor anak ular piton di Jalan Pemuda, Kuala Kapuas, Kamis, 14 Mei 2026, menarik perhatian warga. Para peserta tampak mengikuti proses penanganan satwa dengan pendampingan relawan senior dari BPK Seroja Indah Unit 1 Balakarcana.

Laporan awal berasal dari warga yang meminta bantuan setelah menemukan seekor anak ular di sekitar lingkungan rumah. Tim relawan kemudian mendatangi lokasi dan melakukan penanganan menggunakan peralatan evakuasi standar.

Dalam proses tersebut, anggota muda dilibatkan sebagai bagian dari pembelajaran lapangan terbatas, mulai dari pengenalan alat, prosedur keamanan, hingga observasi teknik penanganan satwa nonberbisa.

Ketua BPK Seroja Indah Unit 1 Balakarcana, Syamsul Ifansyah, menegaskan pihaknya memang melakukan pembinaan terhadap kalangan remaja, namun tidak langsung menerjunkan mereka pada tugas berisiko tinggi.

“Pada dasarnya, relawan memang tidak membolehkan anak di bawah umur langsung bekerja di lapangan. Di tempat kami, mereka dibina terlebih dahulu sebagai bagian kaderisasi dan pembelajaran, bukan langsung ditugaskan menangani kondisi berbahaya,” ujar Syamsul.

Ia menjelaskan ular yang dievakuasi merupakan anak ular sawa atau piton yang tidak berbisa, sehingga dinilai relatif aman untuk sarana edukasi dasar dengan pengawasan ketat.

“Ini anak ular sawa, tidak berbisa. Meski demikian, tetap ada risiko sehingga seluruh proses tetap dalam pengawasan senior dan dengan batasan tertentu,” katanya.

Menurut Syamsul, anggota muda hanya diperkenankan mengikuti kegiatan yang bersifat edukatif dan berisiko rendah. Sementara untuk penanganan ular berbisa, ular berukuran besar, kebakaran aktif, maupun kondisi darurat lain, sepenuhnya ditangani personel senior.

“Kalau ular besar atau berbisa seperti cobra, kami tidak mengizinkan junior terlibat langsung. Mereka biasanya membantu pada tahap pembelajaran, pengenalan alat, dan pembenahan peralatan setelah kegiatan selesai,” tegasnya.

Program pembinaan menjadi bagian dari upaya mengarahkan remaja pada kegiatan sosial dan kedisiplinan agar tidak terjerumus dalam pergaulan negatif.

“Kami ingin membina remaja yang punya jiwa sosial. Harapannya, mereka punya wadah positif dan terhindar dari aktivitas yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan,” tutupnya. (SABRIANOOR)