BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang ternyata masih memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Di Kabupaten Kapuas, sejumlah warga mulai mengumpulkan dan menjual kembali minyak bekas pakai dari rumah tangga maupun warung makan.
Salah satunya dilakukan Heni, warga Pati Rumbih, Kuala Kapuas. Dalam beberapa bulan terakhir, ia mulai mengumpulkan minyak jelantah yang berasal dari penggunaan sehari-hari di rumah maupun dari warung-warung makan.
Selain menyimpan minyak bekas dari rumah, Heni juga aktif mencari tambahan pasokan dari warung makan dengan harga yang relatif murah. Menurutnya, permintaan minyak jelantah di wilayah Kapuas mulai meningkat.
“Sudah banyak yang mencari di Kuala Kapuas ini. Kalau mau jual banyak, pengepulnya ada,” ujarnya, Jumat, 15 Mei 2026.
Harga minyak jelantah di tingkat pengumpul bervariasi tergantung kondisi dan hasil negosiasi. Rata-rata berada di kisaran Rp5.000 per liter, namun bisa turun hingga Rp3.500–Rp4.000 untuk kualitas tertentu.
Ia menyebut, minyak yang diminati biasanya tidak terlalu hitam pekat. Meski begitu, ebagian pengepul masih menerima dengan harga lebih rendah selama jumlahnya mencukupi.
Setelah terkumpul, minyak jelantah tersebut biasanya dijual kembali ke pengepul yang lebih besar di wilayah Banjarmasin dan Banjarbaru. Dari tingkat tersebut, harga bisa meningkat hingga sekitar Rp7.000–Rp8.000 per liter untuk kemudian diolah lebih lanjut.
Aktivitas pengumpulan minyak jelantah ini mulai menjadi peluang usaha kecil di kalangan warga, sekaligus memanfaatkan limbah rumah tangga agar memiliki nilai jual kembali. (SABRIANOOR/y)



