BORNEONEWS, Palangka Raya - Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU di Kalimantan Tengah mendapat sorotan dari Yayasan Konsumen Indonesia atau YKI Kalteng. Kondisi tersebut dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat dan perlu mendapat perhatian serius dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPH Migas.
Pelaksana Harian Sekretaris YKI Kalteng, Arniansyah mengatakan pihaknya segera menyurati BPH Migas agar turun langsung ke Kalimantan Tengah guna melakukan pengawasan distribusi Bahan Bakar Minyak atau BBM di daerah.
“Kami akan bersurat meminta BPH Migas turun ke Kalimantan Tengah untuk melihat secara langsung proses distribusi BBM dari Pertamina ke daerah-daerah,” kata Arniansyah pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Menurutnya, YKI akan mengumpulkan data terkait kuota BBM di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Selain itu, pihaknya juga akan mencermati persoalan distribusi yang diduga menjadi salah satu pemicu antrean panjang di berbagai SPBU.
Arniansyah menilai antrean kendaraan, baik untuk BBM bersubsidi maupun non subsidi, kini hampir terjadi merata di sejumlah daerah. Situasi tersebut disebut telah menjadi pemandangan sehari-hari dan meresahkan masyarakat.
“Berdasarkan informasi yang kami himpun pada Jumat, 15 Mei 2026, antrean kendaraan di salah satu SPBU di Jalan Pahlawan, Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan, bahkan mencapai sekitar 1,5 kilometer,” ungkapnya.
Ia menegaskan, BPH Migas tidak cukup hanya melakukan pengawasan administratif, melainkan perlu turun langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi BBM berjalan sesuai aturan. YKI juga meminta adanya tindakan tegas apabila ditemukan dugaan penyalahgunaan distribusi BBM di tingkat SPBU.
Menurut Arniansyah, BPH Migas memiliki tanggung jawab memastikan pasokan BBM, khususnya BBM bersubsidi, tepat sasaran dan diterima masyarakat yang berhak. Karena itu, apabila terjadi persoalan distribusi di lapangan, tanggung jawab tidak hanya berada pada Pertamina, tetapi juga BPH Migas sebagai lembaga pengawas.
“Sejauh ini kami mencermati ada akumulasi berbagai faktor yang diduga menjadi penyebab antrean BBM terus berlarut-larut di sejumlah daerah di Kalimantan Tengah. Kondisi ini perlu segera ditangani agar tidak semakin merugikan masyarakat,” tandasnya. (TESTI PRISCILLA/H)









