SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dugaan aktivitas pelangsiran BBM subsidi kembali menjadi sorotan di wilayah Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kali ini, keluhan datang dari seorang sopir ambulans yang mengaku kesulitan mendapatkan solar saat hendak menjemput pasien.

Kejadian itu disebut berlangsung di sebuah SPBU kawasan Samuda pada Jumat, 15 Mei 2026 sekitar pukul 06.00 WIB. Sopir ambulans tersebut mengaku kendaraan darurat yang dibawanya tidak mendapat prioritas pengisian BBM, meski sedang digunakan untuk keperluan medis.

Keluhan tersebut viral setelah video berdurasi sekitar 3 menit 33 detik beredar luas di media sosial. Dalam video itu, terlihat indikator bahan bakar ambulans hampir kosong sambil sopir menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi antrean di SPBU.

"Saya tadi sekitar pukul 6 mau mengisi minyak ambulance karena ada yang mau dijemput. Ternyata setelah SPBU buka, pelangsir yang ngotot dia dulu masuk," ujar seseorang dalam video tersebut.

Menurutnya, kendaraan layanan darurat semestinya memperoleh prioritas pengisian BBM, terutama saat menjalankan tugas kemanusiaan. Namun kondisi di lapangan disebut justru berbeda.

"Sebenarnya yang diprioritaskan itu ambulance, mobil pemadam, patwal dan kendaraan emergency lainnya. Tapi nyatanya di lapangan tidak seperti itu," tambahnya.

Tak hanya soal antrean panjang, sopir ambulans itu juga mengaku kecewa lantaran kendaraannya disebut sebagai kendaraan pelangsir oleh seseorang di sekitar lokasi SPBU.

Ia menegaskan ambulans yang digunakan merupakan kendaraan operasional penjemput pasien dan bukan untuk kegiatan pelangsiran BBM subsidi.

"Karena saya tahu muka orang itu, dia memang pelangsir biosolar. Tapi dia malah bilang ambulans ini pelangsir juga. Saya tidak terima kalau ambulance disebut kendaraan pelangsir. Ambulance ini untuk orang sakit," ujarnya.

Dalam video yang beredar, sopir ambulans tersebut turut meminta perhatian pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga instansi terkait agar melakukan pengawasan terhadap aktivitas di SPBU wilayah Samuda.

Menurut pengakuannya, para pelangsir diduga leluasa mengatur antrean sehingga kendaraan prioritas mengalami kesulitan mendapatkan BBM.

Ia menilai kondisi itu sudah cukup lama berlangsung di SPBU tersebut seolah dibiarkan oleh aparat dan pemerintah daerah. Bahkan, ia menduga terdapat oknum tertentu yang memiliki banyak kendaraan untuk melangsir BBM subsidi secara berulang. (DEWI PATMALASARI/H)