SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kotawaringin Timur (Kotim) menelusuri dugaan permainan distribusi minyak goreng merek MinyaKita setelah sempat terjadi kelangkaan dan lonjakan harga di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit.

"Ini yang masih kami akan bicarakan kaitan dengan minyakita ini bagaimana distribusinya karena kita ini, pabriknya ada di kita tapi minyaknya bisa di pasaran menghilang," kata Plt Kepala DKUPP Kotim Muslih, Sabtu, 16 Mei 2026.

Hal tersebut ia sampaikan merespon harga MinyaKita di Pasar PPM Sampit sempat melonjak hingga Rp19.000 sampai Rp20.000 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Berdasarkan pengakuan pedagang kondisi itu dipicu pembatasan pembelian dari agen.

Muslih menjelaskan, terdapat 2 pantau di Sampit yakni Pasar PPM yang menjadi pantauan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) serta Pasar Keramat yang menjadi pasar pantau DKUPP Kotim. Oleh karena itu pihaknya melakukan koordinasi dengan Bagian Ekonomi Setda Kotim dan Dinas Pertanian terkait harga MinyaKita di Pasar PPM tersebut.

"Di pasar PPM yang dilaporkan itu adalah kebetulan itu pasar pantau yang menjadi pantauan dari Dinas Pertanian. Kami sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas, kemudian dicek lapangan itu memang kendalanya adalah pasokan minyak itu agak berkurang. Tapi ini dalam beberapa hari ini sudah teratasi," ujarnya.

Sementara itu, untuk harga MinyaKita di Pasar Keramat Sampit  yang menjadi pantauan DKUPP Kotim hingga saat ini masih relatif stabil. Ia membeberkan harga MinyaKita di Pasar Keramat saat ini berada di kisaran Rp15.700 hingga Rp16.000 per liter. Selisih harga tersebut disebut pedagang dipengaruhi keterbatasan uang receh untuk pengembalian.

"Untuk di pasar keramat itu menjadi pantauan kami Dinas Koperasi untuk harga, pantauan hari-hari kami masih di harga normal, standar," jelasnya.

Ia menambahkan, sebagian besar pedagang di Pasar Keramat mendapatkan suplai MinyaKita dari Bulog. Namun, Bulog juga dikabarkan sempat mengalami keterbatasan stok.

"Kalau Pasar Keramat itu mayoritas pendagang itu mendapat suplai sebagian dari bulog. karena informasinya memang kemarin yang di bulog ini juga terbatas mendapatkan minyaknya," ungkap Muslih.

Namun demikian, pihaknya akan melakukan penelusuran terkait adanya dugaan permainan distribusi maupun penimbunan MinyaKita tersebut.

"Kemarin saya sudah sampaikan ke kawan-kawan OPD terkait termasuk kami Dinas Koperasi dan juga di bagian ekonomi kita akan mencoba mencari permasalahannya di mana. Kita akan coba telusuri. Kalau misalnya ada dugaan-dugaan penimbunan pasti kita kolaborasi juga dengan APH," bebernya.

DKUPP Kotim kini masih menunggu hasil penelusuran untuk memastikan apakah kelangkaan tersebut disebabkan masalah produksi, distribusi, atau adanya dugaan penyimpangan di lapangan.

"Nanti kita akan melihat dari hasil penelusuran kami dengan kawan-kawan apakah ini produksi kita masih memenuhi atau memang produksinya yang kurang ini yang memang menjadi pertanyaan kita," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)