BORNEONEWS, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ekspor pupuk Indonesia ke Australia menjadi bukti semakin kuatnya posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas pangan kawasan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Menurut Amran, langkah ekspor tersebut menunjukkan Indonesia kini semakin dipercaya sebagai mitra strategis dalam sektor pangan internasional.
“Ini menunjukkan Indonesia semakin dipercaya dan diperhitungkan dalam menjaga stabilitas pangan kawasan,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta diterima pada Minggu, 17 Mei 2026.
Ia mengungkapkan, apresiasi langsung disampaikan Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia Julie Collins MP melalui sambungan telepon terkait dukungan pasokan pupuk dari Indonesia.
Dalam percakapan tersebut, pemerintah Australia menyampaikan terima kasih karena Indonesia dinilai membantu menjaga ketersediaan pupuk di tengah terganggunya rantai pasok global akibat situasi geopolitik dunia.
“Menteri Pertanian Australia menyampaikan terima kasih karena Indonesia membantu menyuplai pupuk di tengah tantangan geopolitik global,” ujarnya.
Amran mengatakan, ekspor pupuk itu menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mendukung kebutuhan negara lain di kawasan.
Ucapan terima kasih serupa sebelumnya juga disampaikan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kepada Presiden Prabowo Subianto melalui komunikasi langsung antarpemimpin kedua negara.
Menurut Amran, hal tersebut menandakan kerja sama pangan Indonesia dan Australia kini berkembang menjadi kemitraan strategis yang semakin erat.
“Perdana Menteri Australia menelepon Presiden Prabowo untuk menyampaikan terima kasih karena Indonesia menyetujui ekspor pupuk ke Australia,” katanya.
Ekspor perdana pupuk urea ke Australia dilakukan di Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, pada Kamis, 14 Mei 2026. Pengiriman itu merupakan bagian dari kerja sama Government to Government (G2G) Indonesia-Australia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia Pasifik.
Pada tahap awal, volume pupuk yang dikirim mencapai 47.250 ton. Jumlah tersebut merupakan bagian dari komitmen ekspor sebesar 250.000 ton dan ditargetkan meningkat menjadi 500.000 ton dengan nilai sekitar Rp7 triliun.
“Ini menjadi sejarah baru karena Indonesia mulai mengekspor pupuk ke sejumlah negara termasuk Australia,” ucap Amran.
Ia menegaskan, penguatan industri pupuk menjadi salah satu fondasi utama dalam percepatan program swasembada pangan nasional. Ketersediaan pupuk yang memadai serta distribusi yang cepat dinilai penting untuk meningkatkan produksi pertanian.
Meski melakukan ekspor, Amran memastikan kebutuhan pupuk petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas pemerintah. Ekspor dilakukan karena produksi pupuk nasional saat ini dalam kondisi surplus.
Produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton. Dengan demikian, Indonesia masih memiliki surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk pasar ekspor sekaligus memperkuat diplomasi pangan nasional.
ANTARA









