BORNEONEWS, Sampit - Harga kelapa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir. Kondisi ini membuat petani kelapa mengeluh karena pendapatan mereka turun drastis, bahkan dikhawatirkan memicu peralihan kebun kelapa menjadi perkebunan kelapa sawit.
Anggota DPRD Kotim Dapil III, Wahito Fajriannor, mengatakan saat ini harga kelapa di tingkat pengepul hanya berkisar Rp1.400 hingga Rp1.800 per butir. Padahal sebelumnya harga kelapa normal standar Rp 4.000 per butir, bahkan pernah sampai Rp. 7.000.
"Petani kelapa hari ini harganya anjlok. Memang sudah seminggu ini informasinya pabrik kelapa di Samuda tidak produksi. Akhirnya para pengepul tidak ada kompetitornya sehingga harga hanya ditentukan pengepul," kata Fajrin, Minggu, 17 Mei 2026.
Menurutnya, anjloknya harga kelapa sangat memberatkan petani karena biaya operasional tetap tinggi. Mulai dari biaya panen, pengangkutan, hingga pengupasan tetap harus dibayar meski harga jual turun drastis.
"Kondisi anjloknya harga ini membuat petani kelapa terpukul. Karena biaya operasional untuk upah potong, angkut, mengupas dan lainnya. Sehingga petani kelapa saat ini hanya mendapatkan hasil Rp300 per butir," ujarnya.
Ia menjelaskan, wilayah selatan Kotim selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kelapa terbesar di daerah tersebut. Namun kondisi harga yang tidak stabil membuat banyak petani mulai kehilangan semangat untuk mempertahankan kebun kelapa mereka.
Politisi Partai Demokrat tersebut menilai, jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi yang jelas, petani berpotensi beralih menanam kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.
Ia mengingatkan, apabila banyak petani meninggalkan komoditas kelapa, maka ke depan daerah bisa mengalami kekurangan pasokan kelapa lokal.
"Jangan sampai petani kelapa ini beralih ke kelapa sawit. Karena kalau beralih ke kelapa sawit ke depannya kita ini kelapa harus mencari dari luar daerah atau bisa jadi impor dari negara lain," tegasnya.
Menurutnya, petani sebenarnya masih bisa bertahan apabila harga kelapa stabil di kisaran Rp3.500 hingga Rp5.000 per butir. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait segera turun tangan memantau kondisi harga sekaligus mencarikan solusi bagi petani.
"Mudah-mudahan dari dinas terkait bisa memantau terkait harga kelapa ini dan bisa membuka akses ke pusat menyampaikan kendala-kendala petani kelapa ini," ucapnya.
Selain itu, dirinya juga mendorong adanya standarisasi harga minimal buah kelapa yang dikeluarkan oleh Kementan secara Nasional.
"Harapan kami juga pemerintah mengeluarkan standarisasi harga jangan sampai ada permainan harga oleh pembeli kelapa dengan harga seenaknya. Jika ada standarisasi harga maka petani ataupun pengepul sama sama tidak di rugikan," tandasnya. (DEWI/J)









