BORNEONEWS, Palangka Raya – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah melakukan kunjungan kerja ke Persemaian Permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mendalami strategi rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) serta upaya pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah diterapkan dan terbukti berhasil di wilayah tersebut, beberapa waktu lalu.
Kunjungan kerja ini merupakan bagian dari langkah strategis Komisi II DPRD Kalteng untuk memperkuat berbagai program pemulihan lingkungan yang akan diterapkan di daerah asalnya.
Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah, mengungkapkan bahwa pihaknya memperoleh banyak pembelajaran berharga, mulai dari tata kelola persemaian yang baik hingga strategi penghijauan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, kunci keberhasilan rehabilitasi di Gunungkidul bukan hanya terletak pada kegiatan teknis penanaman pohon semata, melainkan juga pada keterlibatan aktif masyarakat melalui pengembangan tanaman produktif yang bernilai ekonomi tinggi.
“Kami melihat reboisasi di sini tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ketika masyarakat merasakan manfaatnya, maka mereka akan ikut menjaga dan merawat pohon-pohon tersebut,” ujar Siti Nafsiah, Selasa, 19 Mei 2026.
Selain aspek ekonomi, Komisi II juga mempelajari pola pemilihan jenis tanaman yang disesuaikan secara cermat dengan karakteristik wilayah DAS setempat.
Tanaman yang memiliki sistem perakaran kuat menjadi prioritas utama guna menjaga ketersediaan daerah resapan air tanah sekaligus mengurangi risiko erosi dan sedimentasi yang dapat mengganggu aliran sungai.
Tidak hanya tanaman kehutanan murni, persemaian ini juga mengembangkan jenis tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS) seperti alpukat dan durian. Jenis tanaman ini dinilai efektif mendukung peningkatan taraf ekonomi warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Terdapat sejumlah poin penting yang menjadi perhatian utama selama kunjungan, antara lain penerapan standarisasi bibit unggul guna meningkatkan tingkat keberhasilan tanam di lahan kritis, penerapan pendekatan vegetatif yang menggabungkan fungsi lindung dan fungsi produksi, serta model pelibatan kelompok tani hutan dalam seluruh rangkaian kegiatan mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan.
Siti Nafsiah menegaskan bahwa model pengelolaan persemaian dan strategi rehabilitasi yang diterapkan di Gunungkidul sangat layak dan dapat dijadikan referensi utama untuk diterapkan di Kalimantan Tengah.
Hal ini mengingat Kalteng memiliki luas kawasan DAS yang sangat besar serta kebutuhan mendesak untuk merehabilitasi lahan-lahan yang rusak.
“Yogyakarta membuktikan bahwa lahan yang sebelumnya tandus dapat kembali produktif melalui perencanaan yang matang dan dukungan teknis yang kuat. Semangat ini menjadi inspirasi bagi kami untuk diterapkan di Kalteng,” pungkasnya. (PATHUR/H)









