BORNEONEWS, Palangka Raya – Fenomena kemunculan sejumlah pria yang tampil dengan gaya berpakaian, berpenampilan, dan berperilaku menyerupai wanita atau yang kerap disebut masyarakat sebagai kaum “Bowtie”, menjadi perbincangan hangat dan mengundang beragam reaksi di Kota Palangka Raya.
Keberadaan kelompok ini yang terekam dalam berbagai unggahan video dan foto di media sosial, salah satunya saat membuat konten di kawasan belakang Jembatan Kahayan, dinilai memicu ketidaknyamanan publik dan dikhawatirkan berdampak buruk bagi nilai-nilai sosial serta karakter generasi muda.
Merespons maraknya penyebaran konten tersebut, Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Palangka Raya, Bush Valentino, mengecam keras keberadaan fenomena tersebut.
Ia menegaskan bahwa penampilan dan perilaku yang ditunjukkan para pria tersebut sangat bertentangan dengan identitas aslinya dan berpotensi memberikan pengaruh negatif yang luas, terlebih karena kontennya dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak dan remaja pengguna media sosial.
"Mereka itu laki-laki bukan malah menjadi wanita, laki-laki jadi-jadian seperti ini tidak bisa dijadikan panutan, justru malah merusak generasi penerus dan kami menolak keberadaan mereka," tegas Bush Valentino dengan tegas, Selasa, 19 Mei 2026.
Bush menilai, gaya berjalan, ekspresi, hingga cara berpakaian yang ditampilkan kelompok tersebut di ruang publik dan di media sosial telah menimbulkan rasa kurang nyaman bagi sebagian besar masyarakat.
Lebih dari sekadar perbedaan gaya, fenomena ini memunculkan kekhawatiran serius terkait potensi pengaruh buruknya terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda yang sedang dalam masa pencarian jati diri.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Bush menekankan bahwa penanganan masalah ini harus menjadi perhatian bersama, dengan peran utama yang dipegang oleh keluarga dan orang tua.
Menurutnya, keberadaan fenomena seperti ini bisa saja mempengaruhi anak-anak jika tidak disikapi dengan bijak dan tidak diberikan pemahaman yang benar sejak dini. Oleh karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi kunci utama agar anak tidak terbawa arus pergaulan yang salah.
"Keberadaan mereka yang seperti itu bisa saja memberikan pengaruh bagi anak-anak jika tidak disikapi dengan bijak. Karena itu pengawasan orang tua sangat penting," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab terbesar dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. Orang tua diharapkan tidak hanya mengawasi, tetapi juga aktif mengarahkan energi dan minat anak ke hal-hal yang positif, bermanfaat, dan membangun.
"Anak-anak sebaiknya diarahkan ke kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga, seni, atau aktivitas kreatif lainnya sehingga energi mereka tersalurkan dengan baik," jelas Bush.
Lebih lanjut, Bush mengimbau agar pendekatan yang dilakukan terhadap anak-anak harus bersifat edukatif dan mendidik, bukan dengan kemarahan atau hukuman yang berlebihan.
Pemahaman mengenai batasan perilaku, etika pergaulan, serta nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat harus ditanamkan secara tenang namun tegas, agar anak tumbuh dengan pemahaman yang jelas mengenai identitas diri dan norma yang berlaku.
Penguatan karakter ini, menurut Bush, tidak hanya menjadi tanggung jawab rumah tangga, tetapi juga harus didukung penuh oleh lingkungan sekolah. Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan anak.
"Kalau saya, akan lebih mengutamakan pembinaan terhadap generasi muda melalui pendidikan karakter di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Itulah pondasi utama agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berkarakter, dan tidak mudah terpengaruh hal-hal yang dapat merusak masa depan mereka," pungkas Bush Valentino. (PATHUR/H)









