JAKARTA –

BORNEONEWS, Istanbul – Amerika Serikat dan Iran dilaporkan saling bertukar proposal dan usulan balasan dalam upaya mencegah konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Laporan The Washington Post menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum puas terhadap proposal awal Iran terkait pembatasan pengayaan nuklir dan menginginkan kesepakatan dengan cakupan yang lebih luas.

Dalam pembicaraan sebelumnya, Amerika Serikat meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama 25 tahun. Namun usulan tersebut ditolak Teheran. AS kemudian mengajukan pengurangan masa larangan menjadi 20 tahun, tetapi kembali mendapat penolakan.

Dalam pembahasan terbaru, AS disebut membuka peluang pelonggaran sanksi ekspor minyak Iran apabila Teheran bersedia menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.

Sementara itu, proposal terbaru Iran dikabarkan memuat kemungkinan pemindahan sebagian stok uranium yang telah diperkaya ke luar negeri. Meski demikian, kedua isu tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum mencapai kesepakatan final.

Di sisi lain, Trump dilaporkan menunda rencana serangan lanjutan terhadap Iran setelah sejumlah negara kawasan menyampaikan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai semakin dekat.

Menurut laporan tersebut, para pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab meminta AS menahan serangan demi memberi ruang bagi proses negosiasi.

Axios juga melaporkan Trump melakukan komunikasi dengan para pemimpin negara Teluk dalam 24 jam sebelum pengumuman penundaan serangan.

Negara-negara Arab khawatir fasilitas minyak dan energi mereka menjadi sasaran balasan Iran apabila konflik kembali meningkat.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang kemudian dibalas Teheran dan memicu gangguan di Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen. Meski demikian, gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu tertentu.

ANTARA