BORNEONEWS, Kapuas – Suasana malam di Desa Terusan Mulya, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, tampak berbeda. Di tengah hamparan kawasan pertanian, obrolan santai beberapa orang perlahan berubah menjadi diskusi serius mengenai panen gabah dan upaya menjaga harga hasil pertanian tetap stabil.
Malam itu, Angga May Chandra bersama tim dari Perum Bulog Kantor Cabang Kapuas memilih bermalam di rumah salah seorang petani setempat demi memaksimalkan penyerapan gabah hasil panen warga.
Menurut Angga, kegiatan menginap di kawasan pertanian sudah menjadi bagian dari rutinitas tim lapangan Bulog saat musim panen berlangsung.
“Menginap di kawasan pertanian seperti di wilayah Terusan ini biasa kami lakukan agar penyerapan hasil panen bisa maksimal,” ujarnya sebagaimana dikutip pada Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam satu kali kegiatan penyerapan, tim Bulog biasanya menargetkan sekitar 30 ton gabah dengan menyesuaikan kapasitas mitra penggilingan padi.
Ia menjelaskan, gabah hasil panen petani tidak langsung diproses begitu saja. Sebelum menjadi beras yang siap dikonsumsi masyarakat, gabah harus melalui berbagai tahapan mulai dari pemeriksaan kualitas, pengeringan, penggilingan, penyortiran, hingga pengemasan sebelum akhirnya disimpan di gudang Bulog.
“Untuk menghasilkan beras berkualitas, semua proses itu harus dijalani dengan teliti dan penuh kesabaran,” katanya.
Menjaga Harga Gabah Petani
Kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan harga pembelian gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram sejak Februari 2025 menjadi angin segar bagi para petani.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan harga pembelian gabah petani tidak boleh berada di bawah angka tersebut sebagai upaya melindungi nilai jual hasil panen.
Kebijakan itu sekaligus menjadi tanggung jawab besar bagi Bulog untuk memastikan harga pembelian tetap sesuai ketentuan di tingkat petani.
Sebagai tindak lanjut, Bulog Wilayah Kalimantan Tengah membentuk dua tim khusus untuk mengoptimalkan penyerapan gabah petani di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Kapuas.
Tim pertama bertugas melakukan penjemputan gabah langsung dari petani sekaligus memastikan harga pembelian tetap Rp6.500 per kilogram. Sedangkan tim kedua melakukan pengawasan terhadap proses pengolahan gabah hingga menjadi beras.
Selain itu, Bulog juga terus mendorong petani dan penyuluh pertanian menjaga kualitas hasil panen agar menghasilkan beras dengan mutu yang baik.
Menurut Angga, sejak Januari hingga Mei 2026, penyerapan gabah di wilayah Kapuas dan sekitarnya telah mencapai sekitar 3.050 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.600 ton berasal dari kawasan Terusan.
Ia memastikan Bulog selalu membeli gabah petani sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah.
“Alhamdulillah sekarang hampir tidak ada lagi harga yang jatuh. Bahkan ada yang membeli sampai Rp6.700 hingga Rp7.000 per kilogram,” ujarnya.
Harapan Petani untuk Ketahanan Pangan
Bagi para petani, kebijakan harga pembelian gabah menjadi harapan besar untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Salah seorang petani di wilayah Terusan, Darmaya, mengaku penetapan harga gabah Rp6.500 per kilogram sangat membantu petani dalam menjaga stabilitas pendapatan.
“Petani tentu ingin harga beli yang baik supaya modal kembali dan ada keuntungan,” katanya.
Ia berharap kebijakan yang berpihak kepada petani tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi terus diwujudkan melalui dukungan nyata di lapangan, termasuk peningkatan sarana pertanian dan penguatan penyerapan hasil panen.
Menurutnya, harga gabah yang baik tidak hanya menghadirkan senyum bagi petani, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan.
ANTARA









