PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) melakukan survei tarif angkutan sungai di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut, Kecamatan Arut Selatan.

Hasil pemantauan di lapangan, dari tarif yang biasanya Rp 2.000, kini tarif penyeberangan angkutan Sungai Arut diketahui mengalami kenaikan sebesar Rp1.000.

Survei dilakukan sebagai langkah monitoring terhadap perkembangan tarif transportasi sungai yang menjadi sarana mobilitas masyarakat sehari-hari. Selain itu, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mengetahui dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap operasional pelaku usaha angkutan sungai.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishub Kobar, Rawandi, mengatakan pihaknya menurunkan personel ke sejumlah titik penyeberangan untuk menghimpun data dan informasi langsung dari operator angkutan sungai di DAS Arut.

Dalam pelaksanaannya, survei dilakukan pada tiga pangkalan penyeberangan utama yang menjadi akses masyarakat di wilayah DAS Arut, yakni Pangkalan Getek Kampung Sega, Pangkalan Gardu, dan Pangkalan Getek Raja Seberang.

Personel Dishub Kobar, Yonathan Hut Riawan, menjelaskan dari hasil survei tersebut diketahui terjadi penyesuaian tarif penyeberangan sebesar Rp1.000 dibanding tarif sebelumnya.

“Dilakukan survei pada tiga lokasi yaitu Pangkalan Getek Kampung Sega, Pangkalan Gardu, dan Pangkalan Getek Raja Seberang. Diperoleh informasi bahwa tarif penyeberangan angkutan sungai di DAS Arut mengalami kenaikan Rp1.000,” ungkap Yonathan, Rabu, 20 Mei 2026.

Menurutnya, kenaikan tarif tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya operasional yang dirasakan para pelaku usaha angkutan sungai, terutama untuk pembelian bahan bakar jenis Bio Solar yang digunakan sehari-hari.

Yonathan menyebutkan, para operator angkutan sungai mengaku harus membeli Bio Solar dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding harga normal. Kondisi itu dinilai cukup memengaruhi biaya operasional transportasi sungai di wilayah DAS Arut.

“Untuk saat ini pelaku usaha angkutan sungai di DAS Arut menggunakan BBM jenis Bio Solar. Namun Bio Solar tersebut diperoleh dengan harga tinggi. Pelaku usaha angkutan sungai menyampaikan bahwa mereka membeli BBM jenis Bio Solar dengan harga Rp24.000 hingga Rp26.000,” pungkasnya. (NURITA/H)