BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Bukan hujan deras. Bukan pula luapan sungai. Namun pada Rabu, 20 Mei 2026, air justru datang perlahan dari bawah kolong rumah warga dan terus naik hingga membuat aktivitas di Jalan Mahakam, Gang 12 A, Kuala Kapuas terganggu.
Sejak beberapa hari terakhir, kawasan itu terendam air pasang. Tingginya bahkan nyaris menyentuh lantai rumah warga. Jalan lingkungan yang biasanya ramai dilalui sepeda motor berubah seperti lorong air berlumpur. Warga pun terpaksa berjalan pelan sambil memastikan langkah mereka aman.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah titik lain di Kuala Kapuas, seperti kawasan Jalan Seth Adji, Melati, hingga K.S Tubun. Air datang hampir bersamaan, lalu bertahan berjam-jam saat pasang mencapai puncaknya pada tengah hari.
Yang membuat situasi terasa lebih menegangkan, genangan kali ini bukan sekadar soal kaki basah. Warga mulai saling mengingatkan untuk waspada terhadap bahaya tersembunyi di dalam air. Kabel listrik rendah, lubang drainase yang tak terlihat, hingga kemungkinan munculnya hewan berbahaya menjadi kekhawatiran tersendiri.
“Jangan biarkan anak-anak main air dulu,” begitu kalimat yang berkali-kali terdengar antarwarga siang itu. Sebagian memilih memindahkan barang elektronik lebih tinggi, sementara yang lain sibuk mengecek saluran listrik rumah masing-masing.
Fenomena air pasang ini diketahui berkaitan dengan Super New Moon yang sebelumnya telah diinformasikan BMKG. Fenomena tersebut terjadi ketika fase bulan baru berada pada titik terdekat dengan bumi atau perigee, sehingga gaya tarik gravitasi bulan menjadi lebih kuat dan memicu kenaikan muka air laut secara maksimal.
BMKG juga telah mengingatkan bahwa fenomena ini berpotensi menyebabkan banjir rob di sejumlah wilayah pesisir Indonesia sepanjang Mei 2026. Dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko genangan di kawasan permukiman rendah.
Bagi sebagian warga Kuala Kapuas, air pasang mungkin bukan lagi kejadian baru. Namun ketika genangan terus datang lebih tinggi dari biasanya, satu hal mulai terasa jelas, yakni masyarakat kini bukan hanya sedang menghadapi air naik, tetapi juga sedang belajar hidup berdampingan dengan ancaman yang datang makin sering dan makin sulit diprediksi. (SABRIANOOR/j)









