BORNEONEWS, Palangka Raya - Telkomsel mencatat laba bersih sebesar Rp19,7 triliun sepanjang 2025. Perusahaan juga membukukan pendapatan Rp109,3 triliun di tengah dinamika industri telekomunikasi dan digital yang masih menghadapi tantangan.
Direktur Utama Nugroho mengatakan, tahun 2025 menjadi momentum bagi perusahaan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi kami dalam memperkuat fondasi pertumbuhan yang lebih sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Di tengah dinamika industri yang masih penuh tantangan, kami terus menjaga kepemimpinan pasar melalui fokus pada customer value, kualitas layanan broadband, dan pengalaman digital yang semakin relevan bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 21 Mei 2026.
Secara kuartalan, Telkomsel mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 14,7 persen dan EBITDA meningkat 5,4 persen pada paruh kedua 2025. Perusahaan menyebut pertumbuhan tersebut didorong penguatan layanan digital dan optimalisasi portofolio bisnis.
Kontribusi layanan digital disebut telah mencapai lebih dari 95 persen dari total pendapatan mobile. Sementara itu, trafik data tumbuh 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.
Di sisi pelanggan, jumlah pengguna terkonsolidasi mencapai 156,1 juta pelanggan dengan average revenue per user (ARPU) sebesar Rp45 ribu pada akhir 2025.
Perusahaan juga mencatat penetrasi layanan konvergensi sekitar 59 persen, serta pertumbuhan pelanggan fixed broadband yang mendorong total basis pelanggan melampaui 10 juta.
Selain aspek bisnis, perusahaan mengklaim sejumlah program digital turut berdampak pada sektor ekonomi dan sosial. Di antaranya peningkatan omzet UMKM rata-rata hingga 32 persen melalui pemanfaatan layanan digital, dukungan terhadap lebih dari 685 ribu lapangan kerja di ekosistem digital, hingga pengembangan talenta digital melalui program NextDev.
Perluasan akses digital juga dilakukan melalui dukungan BTS Universal Service Obligation (USO) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Sepanjang 2025, perusahaan mengoperasikan lebih dari 293 ribu BTS on-air untuk mendukung layanan broadband nasional dan pemerataan konektivitas digital di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Nugroho, industri telekomunikasi ke depan tidak hanya ditentukan oleh skala bisnis, tetapi juga kemampuan menghadirkan layanan yang relevan dan berkelanjutan.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan industri telekomunikasi ke depan tidak lagi hanya ditentukan oleh skala, tetapi oleh kemampuan menghadirkan layanan yang bernilai, pengalaman yang konsisten, serta keberlanjutan bisnis yang mampu menciptakan dampak jangka panjang bagi pelanggan dan ekosistem digital nasional,” katanya. (TESTI PRISCILLA/H)









