PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah (BI Kalteng), Yuliansah Andrias menyampaikan bahwa kondisi ekonomi global yang bergejolak akibat perang di Timur Tengah memberikan tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi dunia.

Meski demikian, Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat mulai Juni hingga Agustus 2026 seiring membaiknya keseimbangan permintaan dan suplai valas.

Menurut Yuliansah, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi tingginya kebutuhan valuta asing untuk keberangkatan jemaah haji, pembayaran utang luar negeri, hingga dampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik global. 

"Kurs pada Juni diperkirakan menguat. Saat ini memang ada tekanan karena kebutuhan jemaah haji, pembayaran utang, dan gejolak global akibat kenaikan harga minyak sehingga rupiah sempat melemah," ujarnya, saat bincang media pada Kamis, 21 Mei 2026.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali pada kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.

"Langkah ini sebagai bentuk penguatan stabilitas ekonomi nasional di tengah tingginya gejolak global. Fokus kebijakan moneter Bank Indonesia saat ini adalah pro-stability, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi atau pro-growth," kata Yuliansah.

Bank Indonesia juga memperkuat berbagai kebijakan lain, mulai dari intervensi pasar valuta asing, penguatan transaksi digital, hingga perluasan penggunaan QRIS dengan target 47 juta merchant pada 2026. Selain itu, BI juga mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Yuliansah menambahkan, secara makro maupun mikro kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan, ditopang konsumsi domestik, investasi, dan program prioritas pemerintah. 

"Kami optimistis kondisi akan membaik, baik secara makro maupun mikro. Dengan sinergi pemerintah dan Bank Indonesia, stabilitas ekonomi dan pertumbuhan tetap dapat dijaga," tutupnya. (MARINI/R)