BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Warga Karang Mulya Kecamatan Pangkalan Banteng, yang harus merelakan motornya dirampas oleh orang yang mengaku sebagai debt collector (juru tagih) ternyata seorang perempuan bernama Tuty.

Kini, penjual ikan di Pasar Karang Mulya itu pasrah, selain ketakutan karena kalah jumlah melawan juru tagih itu. Apalagi, mereka rata-rata berperawakan kekar dan bertampang sangar.

Hal itu dikemukakan Adi Zaki, orang yang pertama kali mengunggah aksi sepihak juru tagih itu ke Facebook beberapa hari lalu. "Mbak Tuty orangnya kan lugu Mas. Pasrah saja waktu ada yang meminta motornya," terang Adi Zaki, pada Borneonews, Selasa (3/1/2017).

Saat diperlihatkan foto para juru tagih yang selama ini berkeliaran di Kecamatan Pangkalan Banteng, Tuty membenarkannya. Orang di dalam foto dan kendaraan yang ditumpangi sama.

Motor milik Tuty itu dirampas usai jualan ikan di pasar. Saat berada di salah satu toko, tiba-tiba datang beberapa pria memeriksa sepeda motornya. Mulai dari pelat nomor kendaraan hingga menanyakan surat kepemilikan kendaraan bermotor.

"Beralasan motor itu menunggak kredit, mereka menarik motor milik Mbak Tuty. Kasihan Mas, orangnya tidak tahu apa-apa dan motor itulah yang selama ini dibawa ke pasar untuk jualan ikan," bebernya.

Setelah kejadian tersebut, kata Adi Zaki, sejumlah pria yang mengaku juru tagih itu tidak muncul lagi. "Sudah tiga hari belakangan ini tidak muncul," terangnya.

Nasib serupa dialami Nur Syamsu, warga Pangkalan Lada. Ia mengaku sepeda motornya juga dirampas oleh sejumlah pria dengan modus operandi yang sama: mengaku sebagai juru tagih dan menyatakan motor tersebut menunggak kredit. "Saya tidak tahu kalau nunggak kredit, motor itu sebagai jaminan karena teman saya ada pinjam uang," ungkapnya.

Sepeda motor keluaran tahun 2014 itu disita di tengah jalan, saat Syamsu menuju Pangkalan Banteng. Karena tidak ingin urusannya jadi panjang, ia pun merelakannya. "Sudahlah saya relakan saja, bingung juga mau ngurus ke mana," ucapnya pasrah. (FAHRUDDIN FITRIYA/B-10)