PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM berbasis sawit karena dinilai lebih inovatif serta adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Potensi tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertema “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” yang digelar di AKPY-STIPER, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), Dr. Purwadi mengatakan Indonesia hingga kini masih menjadi pemain utama industri sawit global, baik dari sisi produksi, ekspor, maupun konsumsi. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan industri strategis tersebut di masa depan.

“Indonesia memiliki area sawit terluas di dunia, eksportir terbesar, sekaligus konsumen terbesar. Sawit menjadi komoditas unggulan Indonesia di berbagai aspek,” ujarnya dalam rilis BPDP pada Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, secara global luas perkebunan sawit hanya mencakup sekitar 6 persen dari total tanaman penghasil minyak nabati dunia. Namun demikian, sawit dinilai menjadi komoditas paling unggul karena memiliki ratusan produk turunan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari bangun pagi sampai tidur, banyak produk yang kita gunakan mengandung sawit. Karena itu sawit menjadi pesaing besar minyak nabati lainnya,” katanya lagi.

Purwadi juga mendorong peserta workshop agar berani mengambil peluang usaha di sektor sawit, khususnya pengembangan produk-produk UMKM berbasis turunan sawit.

“Peluang bisnis sawit ini masih sangat besar untuk dikembangkan terutama produk-produk UKM. Tetapi ingat anak mudanya jangan sampai letoy dan bermalas-malasan. Kita harus mau belajar salah satunya melalui workshop ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Workshop, Qayuum Amri mengatakan kegiatan tersebut terselenggara melalui kerja sama Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, dan AKPY-STIPER.

Menurutnya, workshop dirancang untuk mengenalkan potensi usaha sawit kepada generasi muda, termasuk praktik pembuatan produk oleofood berbasis sawit yang akan dilaksanakan di INSTIPER Bakery Academy pada hari kedua kegiatan.

“Kami ingin menarik minat Gen Z agar menjadi penerus keberlanjutan sawit di masa depan. Mahasiswa akan diajak belajar langsung membuat produk oleofood berbasis sawit,” ujarnya.

Selain pelatihan teknis, peserta juga mendapatkan materi kewirausahaan dan kisah sukses pelaku usaha kreatif. Qayuum menilai industri sawit memiliki potensi besar karena memiliki lebih dari 170 produk turunan yang dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis baru.

Dukungan terhadap pengembangan UMKM sawit juga disampaikan Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman. Dalam sambutan yang dibacakan Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Refani Anwar Azis, ia mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut.

“Sangat menginspirasi sekali acara ini. Apresiasi setinggi-tingginya untuk Majalah Sawit, BPDP, dan AKPY. Tema ini sangat strategis untuk mendorong Gen-Z agar adaptif dan kolaboratif dalam optimalisasi sawit secara berkelanjutan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah mengatakan generasi muda memiliki banyak peluang untuk terlibat dalam pengembangan industri sawit nasional melalui berbagai program BPDP.

“Banyak sekali program-program yang bisa dinikmati Gen-Z dan generasi muda. Kalau teman-teman mau kuliah, BPDP punya program beasiswa dengan 42 kampus mitra BPDP untuk berbagai jenjang pendidikan mulai D3, D4, maupun S1,” ujarnya.

Helmi menambahkan, BPDP juga mendorong lahirnya lebih banyak pelaku UMKM berbasis sawit. Menurutnya, sektor sawit memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dari ekspor nonmigas yang mencapai sekitar 9 hingga 10 persen.

“BPDP sebagai BLU Kemenkeu siap berkolaborasi dengan teman-teman untuk mengembangkan sawit. Rasio kewirausahaan kita masih sekitar 3 persen, padahal indikator negara maju minimal 10 persen,” ungkapnya.

Ia berharap generasi muda dapat menciptakan berbagai produk inovatif berbasis sawit, kakao, maupun kelapa. Helmi juga mencontohkan sejumlah produk kreatif turunan sawit yang mulai berkembang di masyarakat, seperti peci berbahan lidi sawit hingga batik sawit.

“Sekarang lidi sawit sudah dibuat menjadi peci dari Aceh seperti yang saya pakai saat ini. Ada juga batik sawit yang didirikan oleh CV Smart Batik. Kami berharap melalui program ini lahir inovasi UKM sawit lainnya,” katanya.

Dalam sesi talkshow, workshop menghadirkan sejumlah narasumber yakni Dwi Wulandari, Edy Santosa, serta M Ihsan yang membahas peluang pengembangan usaha kreatif berbasis sawit di kalangan generasi muda.(TESTI PRISCILLA)