BORNEONEWS, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda melemah sebesar 13 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.667 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.654 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen negatif dari rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang berada di bawah kebijakan Federal Reserve untuk periode April 2026.
Dalam risalah tersebut, sebagian besar pejabat The Fed disebut masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi bertahan di atas target 2 persen. Pada pertemuan April lalu, FOMC sendiri memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen.
“Mayoritas pejabat Federal Reserve memperkirakan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter masih terbuka jika inflasi tidak turun sesuai target,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Selain faktor kebijakan moneter, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap eskalasi geopolitik, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada sentimen global.
Ketidakpastian tersebut turut mendorong harga minyak tetap tinggi, meski sempat mengalami koreksi pada awal pekan. Kondisi ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat situasi di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Iran disebut telah meningkatkan kontrol di kawasan tersebut dengan membentuk otoritas baru untuk pengawasan jalur pelayaran, yang menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) justru bergerak menguat tipis ke level Rp17.673 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.685 per dolar AS.
ANTARA








