JAKARTA –

BORNEONEWS, Tokyo - Jepang mencatat penurunan tajam impor minyak dari kawasan Timur Tengah pada April 2026. Penurunan mencapai 67,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia.

Data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Kamis,  21 Mei 2026, menunjukkan volume impor minyak dari Timur Tengah hanya mencapai 3,84 juta kiloliter.

Media Jepang, Kyodo News, melaporkan angka tersebut menjadi level terendah sejak 1979.

Selama ini Jepang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Sekitar 94 persen impor minyak negara tersebut berasal dari kawasan itu dan sebagian besar pengirimannya melewati Selat Hormuz.

Gangguan distribusi energi terjadi setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.

Meski sempat diumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April, perundingan lanjutan antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan kesepakatan baru.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian konflik untuk memberi waktu kepada Iran mengajukan proposal perdamaian.

Situasi tersebut memicu gangguan distribusi minyak global akibat blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke berbagai negara.

Kondisi itu juga berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan produk industri di sejumlah kawasan dunia.

ANTARA