KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Banyak remaja ingin terlihat dewasa lebih cepat. Tapi sering kali, yang dipikirkan baru sebatas hubungan dan perasaan, bukan kesiapan menjalani hidup setelahnya.

Di tengah kondisi itu, isu pernikahan usia dini mulai mendapat perhatian serius di Kabupaten Kapuas. Lewat program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), pelajar diajak bicara tentang sesuatu yang jarang dibahas secara terbuka yakni realita kehidupan setelah menikah.

Bukan sekadar soal usia atau status hubungan, para remaja mulai diajak memahami bahwa pernikahan juga berkaitan dengan kesiapan mental, pendidikan, ekonomi, hingga tanggung jawab membangun keluarga.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kapuas, Achmad Farichin, menegaskan banyak remaja masih menganggap pernikahan sebatas persoalan usia.

“Pernikahan bukan hanya soal kesiapan usia, tetapi juga kesiapan mental, pendidikan, ekonomi, dan tanggung jawab dalam membina rumah tangga,” ungkapnya, Kamis, 21 Mei 2026.

Pesan itu dinilai penting di tengah tekanan pergaulan dan pengaruh media sosial yang membuat banyak remaja ingin terlihat cepat dewasa. Karena itu, pelajar didorong untuk lebih fokus membangun kualitas diri dan menyelesaikan pendidikan sebelum memutuskan menikah.

Program BRUS sendiri merupakan bagian dari edukasi remaja usia sekolah yang dijalankan Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kapuas, Hasbullah, menjelaskan edukasi tersebut bertujuan membantu remaja memahami pentingnya perencanaan hidup sejak dini.

Salah satu sekolah yang menjadi bagian dari program itu ialah MAN Kapuas. Kepala sekolah, Ahmad Mulyadi, menilai pendekatan seperti ini lebih mudah diterima pelajar karena dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari.

“Kami berharap siswa semakin termotivasi untuk fokus belajar, meningkatkan kualitas diri, serta memiliki perencanaan hidup yang baik demi meraih masa depan yang sukses dan berkualitas,” katanya. (SABRIANOOR/y)