BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Mengawali perdagangan pada 2017, Selasa (3/1/2017), harga minyak sawit dibuka menguat dan terus melaju hingga menyentuh level tertinggi dalam dua pekan, didukung oleh rendahnya produksi dan menguatnya minyak nabati pesaing sawit.
Selain itu, penguatan harga minyak sawit di bursa komoditas Malaysia itu ditopang oleh melemahnya ringgit terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya, sehingga harga minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang selain ringgit, kata pelaku pasar di Kuala Lumpur seperti dikutip Reuters.
Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menguat 1,7 persen menjadi 3.163 ringgit ($704) per ton pada penutupan perdagangan Selasa. Ini merupakan kenaikan harian tertinggi dalam sepekan. Sedangkan nilai tukar ringgit melemah 0,1 persen terhadap dolar AS.
Pada awal perdagangan, harga minyak sawit sempat menyentuh level 3.172 ringgit, yang merupakan level tertinggi sejak 19 Desember 2016. Volume perdagangan tercatat sebanyak 43.665 lot hingga akhir perdagangan.
"Produksi minyak sawit tidak meningkat, dan volume produksi itu lebih rendah dari kondisi normal," kata pelaku pasar tersebut seraya menambahkan bahwa volume produksi selama Desember akan lebih rendah dibandingkan November.
Pelaku pasar lainnya mengatakan penguatan harga minyak sawit juga dipengaruhi oleh menguatnya harga minyak nabati pesaing sawit, khususnya minyak kedelai.
Untuk minyak kedelai kontrak Maret, BOv1, di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,9 persen, sedangkan minyak kedelai kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange, DBYcv1, turun 0,6 persen. Kemudian, olein sawit untuk kontrak Mei di Dalian, DCPcv1, naik 0,3 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)








