BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias mengatakan gejolak ekonomi global serta kenaikan harga minyak dunia turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Yuliansah, ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik dan fluktuasi harga energi membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih besar. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat di pasar global.
“Kenaikan harga minyak dunia dan gejolak global memang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ini menjadi tantangan yang juga dirasakan banyak negara berkembang,” kata Yuliansah, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara yang masih melakukan impor minyak akan terdampak ketika harga minyak dunia meningkat. Kenaikan biaya impor tersebut berpengaruh terhadap kebutuhan devisa dan dapat memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Yuliansah menilai kondisi ekonomi domestik Indonesia masih relatif kuat ditopang konsumsi masyarakat, inflasi yang terkendali, serta koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik. Yang penting saat ini menjaga optimisme dan stabilitas agar tekanan global tidak terlalu berdampak besar terhadap perekonomian daerah maupun nasional,” pungkasnya. (MARINI/j)









