PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Potensi besar kakao Indonesia dinilai masih memiliki peluang luas untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing. Hal itu disampaikan Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra dalam workshop “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah” yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Roemah UMKM BPDP @SMESCO Indonesia, Jakarta.

Nugroho menjelaskan, bisnis yang dijalankannya berangkat dari ketertarikan terhadap potensi kakao nasional yang dinilai sangat besar. Indonesia sendiri pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia.

Namun demikian, menurutnya citra cokelat premium justru selama ini lebih melekat pada negara-negara Eropa yang tidak memiliki produksi kakao sebesar Indonesia.

“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” kata Nugroho dalam rilis BPDP pada Jumat, 22 Mei 2026.

Dalam sesi edukasi, Nugroho turut menjelaskan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang memiliki arti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat kepada peserta workshop.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada tiga varietas utama kakao, yakni criollo, forastero, dan trinitario yang memiliki karakteristik rasa dan kualitas berbeda.

Tidak hanya edukasi, workshop juga menghadirkan praktik langsung pembuatan minuman berbasis kakao Indonesia bersama Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra dan Shana yang memiliki keahlian di bidang mixology.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada sejumlah menu kreasi minuman seperti Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, serta Granola. Pada menu Earl Grey Criollo Chocolate, peserta dikenalkan pada perpaduan teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat.

“Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana.

Melalui workshop tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai kakao Indonesia, tetapi juga inspirasi pengembangan produk olahan berbasis cokelat yang memiliki nilai ekonomi dan peluang usaha menjanjikan. (TESTI PRISCILLA/j)