BORNEONEWS, Nanga Bulik – Turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit membuat para petani di wilayah pedesaan Kabupaten Lamandau menjerit. Harga sawit yang sebelumnya sempat menembus Rp3.000 lebih per kilogram, kini anjlok dan hanya bertahan di kisaran Rp1.600 hingga Rp2.200 per kilogram.
Kondisi tersebut dikeluhkan warga desa yang selama ini menggantungkan penghasilan utama dari hasil kebun sawit. Penurunan harga dinilai sangat berdampak terhadap perekonomian keluarga, terlebih kebutuhan pokok dan biaya operasional kebun terus mengalami kenaikan.
Salah seorang petani sawit di Kecamatan Bulik, Ujang, mengaku pendapatannya turun drastis dalam beberapa minggu terakhir. Bahkan hasil panen yang dijual saat ini dinilai tidak sebanding dengan biaya perawatan kebun.
“Dulu harga bisa di atas Rp3.000 per kilo, sekarang tinggal Rp1.600 sampai Rp2.200. Kami di kampung benar-benar terasa berat, apalagi biaya pupuk dan kebutuhan sehari-hari mahal,” ujar Ujang, Sabtu, 23 Mei 2026.
Keluhan serupa juga disampaikan petani lainnya di wilayah pedalaman Lamandau, Madi. Mereka berharap harga sawit segera kembali membaik agar ekonomi masyarakat desa tidak semakin terpuruk.
Selain harga jual yang rendah, petani juga harus menghadapi tingginya ongkos angkut dari kebun menuju tempat penampungan sawit, terutama bagi warga di daerah pelosok dengan akses jalan yang masih terbatas.
Sementara itu, sejumlah pengepul menyebut penurunan harga dipengaruhi fluktuasi pasar minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), termasuk kondisi pasar global yang ikut memengaruhi harga di tingkat daerah.
Masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut, mengingat sawit menjadi sumber mata pencaharian utama bagi sebagian besar warga di Kabupaten Lamandau, khususnya di wilayah pedesaan dan kampung-kampung terpencil. (NATALIA KRISTIN/j)









