KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - “16 tahun hidup di Kalteng baru lihat. Ada becak di Kalteng brooo…”. Kalimat itu terlontar spontan dari Irsan, seorang warga luar daerah yang sedang melintas di Jalan Patih Rumbih arah Stadion Kapuas. Bukan soal gedung tinggi atau tempat wisata modern yang membuatnya terkejut, tapi sebuah becak tua yang masih setia mengayuh di tengah arus kendaraan bermotor.

Di banyak daerah, becak sudah lama hilang. Tergerus ojek online, kendaraan pribadi, dan perubahan gaya hidup masyarakat. Bahkan di sejumlah kota di Kalimantan Tengah, kendaraan roda tiga kayuh itu nyaris hanya tinggal cerita. Tapi di Kuala Kapuas, becak ternyata masih hidup, masih bergerak, dan masih menjadi bagian dari denyut kota.

Pemandangan itu mungkin biasa bagi warga Kapuas. Namun bagi pendatang, keberadaan becak justru terasa unik. Ada nuansa lama yang masih bertahan di tengah modernisasi. Di saat banyak kota berlomba tampil modern, Kapuas diam-diam masih menyimpan wajah transportasi rakyat yang perlahan menghilang dari Indonesia.

Sayangnya, eksistensi becak hari ini bukan tanpa ancaman. Sepanjang kawasan Tambun Bungai hingga dekat rumah sakit, cukup banyak becak terlihat terparkir tanpa penumpang. Sebagian pengemudinya hanya duduk menunggu, berharap ada warga yang masih memilih naik becak dibanding kendaraan lain yang lebih cepat.

Salah satu pengemudi, yakni Syahrani atau yang akrab disapa Kayi Tuha menyebut jumlah penumpang terus menurun. Pendapatan yang dulu cukup untuk kebutuhan harian, perlahan makin sulit diandalkan.

“Kadang sepi. Ada saja penumpang, tapi tidak seperti dulu lagi, makanya ini sambil ngonten" ungkapnya kepada Borneonews, Sabtu, 22 Mei 2026.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal transportasi. Becak di Kapuas bisa menjadi identitas daerah sekaligus daya tarik tersendiri. Tidak semua kabupaten di Kalimantan masih memiliki aktivitas becak yang benar-benar hidup di jalanan. Jika dirawat dan dipromosikan dengan baik, becak justru bisa menjadi ciri khas kota yang unik dan punya nilai budaya.

Di tengah perkembangan teknologi, muncul pula usulan agar pengemudi becak mulai dikenalkan dengan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS. Ide itu dianggap menarik karena banyak masyarakat kini lebih sering membawa ponsel dibanding uang tunai. Namun tantangannya tidak mudah, sebab sebagian besar pengemudi becak sudah lanjut usia dan belum terbiasa menggunakan teknologi.

Karena itu, perhatian pemerintah dan pihak terkait dinilai penting. Bukan hanya bantuan ekonomi, tetapi juga pelatihan sederhana agar para pengemudi mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan mata pencaharian mereka. Sebab jika tidak ada langkah nyata, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi becak di Kapuas hanya tinggal foto lama dan cerita nostalgia.

Di saat daerah lain kehilangan identitas transportasi tradisionalnya, Kuala Kapuas sebenarnya masih punya sesuatu yang langka. Tinggal pertanyaannya, apakah becak akan dipertahankan sebagai bagian dari wajah kota, atau perlahan dibiarkan hilang ditelan zaman. (SABRIANOOR/j)