BORNEONEWS, Sampit - Pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di kawasan Wengga Metropolitan, Kelurahan Baamang Barat, terus dikebut. Hingga saat ini progres pembangunan sekolah tersebut disebut telah mencapai 53 persen.
"Progres pembangunannya sudah mencapai 53 persen, informasi dari Adi Karya sebagai pelaksananya," kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kotim Hawianan, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah pusat menargetkan pembangunan ruang kelas dan asrama dapat selesai pada akhir Juni 2026 agar bisa digunakan untuk tahun ajaran baru 2026/2027.
"Informasi yang kami dapatkan, 30 Juni ini diprioritaskan tercapainya ruang kelas dengan asrama. Diharapkan mudah-mudahan September itu sudah clear semua targetnya," ujarnya.
Sekolah Rakyat Terintegrasi tersebut dibangun di atas lahan hibah seluas 6,7 hektare. Selain ruang belajar dan asrama, kawasan sekolah juga dirancang memiliki berbagai fasilitas pendukung untuk pengembangan siswa.
Menurut Hawianan, dalam master plan pembangunan juga direncanakan fasilitas olahraga, ruang pertemuan, area pengembangan bakat hingga ruang terbuka hijau.
"Rencana juga akan dibangun lapangan bola mini karena menyesuaikan anggaran, tapi kami belum konfirmasi lebih detail semua fasilitas yang akan dibangun. Termasuk fasilitas olahraga, gedung pertemuan, kemudian tempat untuk menyalurkan bakat anak-anak dan pengembangan kompetensi mereka," jelasnya.
Ia menambahkan, desain kawasan sekolah telah dirancang secara matang sejak awal, termasuk penataan area hijau dan gerbang utama sekolah.
"Jadi semuanya fasilitasnya menurut informasi lengkap, termasuk ruang terbuka hijaunya dari gerbang sudah didesain sedemikian rupa. Memang sebelum membangun kemarin master plan-nya sudah ada karena kita memberikan surat izin PBG," bebernya.
Hawianan menegaskan, seluruh proses pembangunan dilaksanakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Sementara pemerintah daerah hanya bertugas melakukan pemantauan dan membantu fasilitasi kebutuhan di lapangan.
"Semua proses pembangunan dilaksanakan oleh pusat melalui Kementerian PU. Jadi tugas kita dibentuk juga tim teknis untuk memantau dan memonitor, misalnya ada yang perlu difasilitasi ya kita fasilitasi," ungkapnya.
Ia mencontohkan, Dinsos Kotim sempat membantu penyediaan tenda bagi para pekerja proyek yang didatangkan untuk mempercepat pembangunan sekolah.
"Informasinya pekerja itu bekas pekerja IKN yang didrop ke sini untuk mengejar pembangunan. Kami dari Dinsos menyiapkan tenda tempat mereka istirahat agar mereka bisa tetap bekerja meski cuaca panas," tambahnya.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kotim ditargetkan mulai digunakan pada tahun ajaran baru 2026/2027. Saat ini proses penjaringan siswa baru juga sedang dilakukan.
Kuota penjaringan siswa terdiri dari 90 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA dengan total 270 siswa. Program tersebut diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu kategori desil 1 dan 2.
"Kalau memang tidak ada (desil 1 dan 2) baru desil 3 sampai desil 4," ujar Hawianan.
Sementara itu, Sekolah Rakyat yang lebih dulu berjalan tahun ajaran 2025/2026 di Islamic Center Sampit saat ini telah menampung sekitar 100 siswa. (DEWI PATMALASARI/H)









