BORNEONEWS, Sampit – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat petani sawit semakin tertekan di tengah tingginya biaya pupuk dan operasional.
Salah seorang petani sawit di Desa Babirah, Kecamatan Pulau Hanaut Lia mengaku, harga sawit di tingkat pengepul turun drastis hingga menyentuh Rp700 per kilogram.
"Harga sawit turun drastis sejak 27 hari lalu sempat menjadi Rp1.150/kg. Tidak lama kemudian turun lagi jadi Rp700/kg di pengepul," ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.
Meski harga anjlok, dirinya tetap harus melakukan perawatan kebun agar tanaman sawit tetap produktif.
Ia menilai kondisi saat ini semakin memberatkan petani karena harga pupuk nonsubsidi dan biaya produksi juga terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
"Pupuk mahal, BBM mahal, sementara harga sawit turun. Petani tentu sangat terbebani. Meskipun harga TBS lagi anjlok, kami tetap merawat sawit," ucapnya.
Penurunan harga TBS di Kotim mulai ramai dikeluhkan petani sejak Jumat, 22 Mei 2026. Turunnya harga disebut terjadi setelah muncul kebijakan terkait tata niaga ekspor kelapa sawit yang disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto.
Informasi yang beredar menyebutkan ekspor sawit dan sejumlah komoditas strategis lainnya akan dilakukan melalui satu pintu yang melibatkan badan usaha milik negara (BUMN).
Dampak penurunan harga juga terlihat di sejumlah perusahaan pembeli sawit. Salah satunya PT Permata Timur Lestari (PTL) Bangkal yang mengumumkan penurunan harga TBS sebesar Rp600 per kilogram mulai Jumat, 22 Mei 2026.
Dalam pengumuman perusahaan pada Jumat lalu, harga TBS PTL ditetapkan sebesar Rp2.570 per kilogram, sedangkan PT WNL sebesar Rp2.550 per kilogram.
Sementara itu, Bupati Kotim Halikinnor mengatakan penetapan kebijakan sawit merupakan kewenangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah, kata dia, hanya bisa menyampaikan aspirasi melalui asosiasi perusahaan sawit.
"Karena sawit ini yang menetapkan pusat. Jadi, kita berharap kita hanya menyuarakan lewat GAPKI, bahwa ini akan berdampak dengan pendapatan petani," ujarnya.
Halikinnor juga mengimbau petani untuk sementara waktu menyesuaikan pengeluaran operasional kebun agar tidak semakin terbebani.
"Cuma kita mengimbau petani, paling tidak saat ini misalnya pupuknya dikurangi dulu. Supaya jangan sampai beban pengeluaran lebih besar dari harga yang anjlok," katanya.
Meski demikian, ia optimistis penurunan harga sawit tidak berlangsung lama dan berharap pemerintah pusat segera menemukan solusi terbaik untuk stabilitas harga sawit nasional.
"Tapi saya meyakini ini tidak akan lama. Karena mungkin pemerintah pusat mau menata. Harapan kita kalau perlu harga sawit bisa sampai Rp5.000 per kilonya, sehingga bisa menyejahterakan petani kita," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









