KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Tidak semua perubahan kota langsung terasa oleh warganya sendiri. Kadang justru orang luar yang lebih dulu menyadari bahwa sebuah kota mulai berubah. Itu pula yang dirasakan Fauzi, warga Sampit yang cukup sering bepergian menuju Banjarmasin melalui jalur darat lintas Kalimantan.

Sebagai kota gerbang penghubung antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Kuala Kapuas memang bukan kota asing bagi para pelintas. Jalur ini hampir setiap hari dilalui warga dari Palangka Raya menuju Banjarmasin maupun sebaliknya. Namun dalam setahun terakhir, Fauzi merasa suasana Kuala Kapuas tidak lagi sama seperti yang dulu sering ia lewati.

“Terasa sekali berubah Kuala Kapuas dalam setahun terakhir ini. Jalanan kalau malam terang sekarang,” ujar Fauzi kepada Borneonews, Senin malam, 25 Mei 2026.

Menurutnya, perubahan paling terasa ketika kendaraan mulai memasuki kawasan dalam kota pada malam hari. Lampu penerangan jalan kini terlihat jauh lebih hidup dan tertata. Ditambah lagi tampilan pintu gerbang kota yang dinilai lebih modern, dinamis, dan mulai memiliki identitas visual tersendiri.

Bahkan saat melintas beberapa waktu lalu, ia sengaja berhenti sejenak untuk masuk menuju kawasan Dermaga KP3. Tempat yang sebelumnya hanya ia anggap sebagai titik singgah biasa, kini justru ramai dipenuhi warga yang menikmati suasana malam di tepian sungai.

“Biasanya saya lewat saja. Tapi pas coba masuk ke dalam kota, tambah terasa perubahannya,” tambahnya.

Perubahan estetika kota memang mulai tampak di sejumlah titik selama masa kepemimpinan Bupati Kapuas, Muhammad Wiyatno. Penataan kawasan Taman Adipura, pengembangan kawasan dermaga, hingga pemasangan PJU dengan desain berkarakter daerah perlahan membuat wajah Kuala Kapuas terlihat lebih hidup dibanding sebelumnya.

Mungkin bagi sebagian warga lokal, perubahan itu terasa biasa karena dilihat setiap hari. Namun bagi orang yang hanya sesekali melintas, perubahan suasana kota justru terlihat cukup kontras. Kuala Kapuas perlahan mulai terasa bukan hanya sebagai kota yang dilewati, tetapi juga kota yang menarik untuk disinggahi.

Meski begitu, Fauzi mengaku masih melihat ada beberapa bagian kota yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya kawasan hutan kota di samping Kompleks Stadion Panunjung Tarung yang menurutnya mulai kehilangan kesan rindang seperti dulu. Bahkan beberapa bagian tulisan “Hutan Kota” terlihat tidak lagi utuh.

Namun di balik catatan itu, ia tetap menilai arah perubahan Kuala Kapuas mulai terlihat jelas. Bukan hanya mempercantik tampilan kota, tetapi juga mulai memanfaatkan posisi strategis sebagai jalur penghubung dua ibu kota provinsi. Potensi itulah yang dinilai bisa menjadi kekuatan wisata kota berbasis ruang publik dan tepian sungai jika terus digarap secara serius. (SABRIANOOR/j)