BORNEONEWS, Palangka Raya - Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 melalui inovasi pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dan gamifikasi web untuk edukasi ekosistem gambut.
Program tersebut dikembangkan oleh tim PKM Riset Sosial Humaniora dari Fakultas Bahasa, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (FBIT) UMPR dengan mengangkat kearifan ekologis masyarakat Dayak sebagai dasar pengembangan media pembelajaran.
Ketua tim, Rishella Dwitha Putri mengatakan inovasi tersebut hadir untuk mengenalkan nilai-nilai ekologis Dayak melalui media pembelajaran yang lebih interaktif dan sesuai perkembangan teknologi.
“Kami ingin menghadirkan media belajar yang dekat dengan kondisi daerah sekaligus relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Harapannya program ini bisa memberi dampak positif bagi masyarakat dan menjadi langkah menuju PIMNAS,” kata Rishella di Palangka Raya, Selasa, 26 Mei 2026.
Selain Rishella, tim tersebut juga beranggotakan Erni Yaya, Heniewati, dan William Hans Permana.
Mereka mengusung proposal berjudul “ECO-MISSION AR: Gamifikasi Web dan Augmented Reality Berbasis Kearifan Ekologis Dayak untuk Meningkatkan Literasi Ekologi Siswa SMP pada Ekosistem Gambut”.
Melalui proposal tersebut, tim berhasil memperoleh pendanaan sebesar Rp6,5 juta dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam proses penyusunan proposal, tim melakukan riset, penguatan kajian literatur, hingga pendampingan bersama dosen pembimbing agar program yang diajukan memiliki dasar akademik yang kuat dan sesuai kebutuhan pendidikan lingkungan di Kalimantan Tengah.
ECO-MISSION AR dirancang sebagai media pembelajaran digital yang memadukan teknologi Augmented Reality, gamifikasi web, dan nilai budaya lokal masyarakat Dayak.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan lebih mudah memahami pentingnya menjaga ekosistem gambut sekaligus mengenal nilai-nilai ekologis budaya lokal.
Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi lingkungan sejak usia sekolah dan menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian alam di Kalimantan Tengah.
Dosen pembimbing tim, Mohamad Nor Aufa mengapresiasi inovasi yang dikembangkan mahasiswa karena dinilai relevan dengan kondisi lingkungan daerah.
“Ide yang diangkat sangat sesuai dengan isu lingkungan di Kalimantan Tengah. Mahasiswa berhasil menggabungkan teknologi, pendidikan, dan kearifan lokal Dayak dalam satu inovasi pembelajaran,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut dapat diimplementasikan secara optimal di sekolah serta menghasilkan luaran yang berkualitas hingga berpeluang melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Keberhasilan meraih pendanaan PKM 2026 itu juga diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa UMPR lainnya untuk terus menghasilkan karya inovatif yang mampu bersaing di tingkat nasional.
ANTARA









