BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Keberadaan becak di Kuala Kapuas kembali menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai tanggapan warga di media sosial mengenai nasib pengemudi becak yang dinilai semakin terdesak perkembangan transportasi modern.
Perbincangan itu mencuat usai unggahan akun Storyteller Kapuas yang menyoroti keberadaan becak yang hingga kini masih bertahan di sejumlah ruas jalan Kota Kuala Kapuas.
Salah satu pandangan datang dari Randy, mahasiswa asal Kapuas yang sedang menempuh studi perencanaan dan perancangan kota atau urban design di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menilai persoalan becak perlu dilihat dari dua sisi sekaligus, yakni perkembangan kota modern dan keberlangsungan ekonomi para pengemudi becak.
Menurutnya, penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat dalam jangka panjang berpotensi memunculkan persoalan perkotaan seperti kemacetan dan polusi. Namun di sisi lain, minat masyarakat menggunakan becak saat ini juga dinilai semakin menurun dibandingkan kendaraan pribadi.
“Sekarang itu masih masif penggunaan kendaraan pribadi, ini sebenarnya tidak baik untuk 10 sampai 20 tahun ke depan karena bisa memicu kemacetan dan menambah polusi,” tulis Randy, Rabu, 27 Mei 2026.
Ia juga menilai pemerintah tidak cukup hanya mempertahankan becak sebagai simbol transportasi tradisional tanpa memikirkan sistem yang realistis dan berkelanjutan bagi para pengemudinya.
Dalam pandangannya, pengemudi becak perlu mulai diarahkan pada konsep ekonomi baru yang tetap terhubung dengan identitas kota. Salah satu gagasan yang disampaikan yakni menjadikan becak sebagai bagian dari kawasan wisata atau transportasi tradisional di titik tertentu di Kuala Kapuas.
Selain itu, ia menyebut pemerintah dapat memikirkan penyediaan ruang usaha formal bagi para pengemudi becak agar tetap memiliki sumber penghasilan di tengah perubahan pola transportasi masyarakat.
Selain pandangan secara ilmiah tersebut, masa depan becak juga mendapat respons dari sejumlah warga lainnya. Sebagian masyarakat berharap keberadaan becak di Kuala Kapuas tidak sekadar dipertahankan sebagai simbol nostalgia, tetapi juga dibarengi solusi nyata bagi pengemudinya yang kini menghadapi penurunan penumpang.
Hingga kini, becak masih dapat ditemukan di beberapa kawasan Kuala Kapuas. Meski jumlahnya tidak sebanyak dahulu, kendaraan tradisional tersebut masih menjadi bagian dari aktivitas harian dan wajah khas kota yang perlahan mulai jarang ditemui di daerah lain. (SABRIANOOR/y)









