BORNEONEWS, Palangka Raya – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Tengah mencatat realisasi pendapatan dan hibah APBN di provinsi setempat hingga 30 April 2026 mencapai Rp4,5 triliun.
Kepala Kanwil DJPb Kalimantan Tengah, Herry Hernawan mengatakan, total realisasi tersebut mencapai Rp4.502,09 miliar atau sekitar 38,78 persen dari target yang telah ditetapkan pemerintah.
“Capaian ini mengalami pertumbuhan sebesar Rp1.890,33 miliar atau sekitar 72,38 persen secara year-on-year dibanding periode yang sama tahun lalu,” kata Herry di Palangka Raya, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurutnya, peningkatan penerimaan negara di Kalimantan Tengah terutama didorong tingginya penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas yang mencapai Rp2,005 triliun.
Kenaikan terbesar berasal dari PPh 25/29 Badan sebesar Rp1,333 triliun, disertai kontribusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri yang mencapai Rp941,24 miliar.
“Kondisi ini mencerminkan aktivitas wajib pajak badan di Kalimantan Tengah masih cukup kuat,” ujarnya.
Dari sisi sektor usaha, penerimaan pajak terbesar berasal dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan realisasi mencapai Rp857,09 miliar atau tumbuh 36,99 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara sektor industri pengolahan mencatat penerimaan sebesar Rp551,43 miliar yang didominasi industri pengolahan kelapa sawit berupa crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya.
Selain itu, penerimaan dari sektor perdagangan internasional juga menunjukkan kinerja positif. Hingga April 2026, realisasinya mencapai Rp419,14 miliar atau setara 213,81 persen dari target.
Angka tersebut tumbuh 46,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan ditopang penerimaan bea keluar sebesar Rp418,95 miliar.
Herry menjelaskan, peningkatan penerimaan bea keluar dipengaruhi kenaikan harga referensi CPO pada April 2026 yang mencapai 989,93 dolar AS per metrik ton atau meningkat sekitar 2,95 persen secara tahunan.









