BORNEONEWS, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan kewaspadaan terhadap potensi multibencana harus menjadi prioritas utama menjelang memasuki periode musim kemarau pada Juni 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, kondisi cuaca saat ini membuat sejumlah wilayah di Indonesia rentan menghadapi ancaman hidrometeorologi basah dan kering secara bersamaan.
“Kelangkaan air bersih dan dampak lain seperti kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius. Sementara pada masa pancaroba juga rawan terjadi cuaca ekstrem yang memicu hujan lebat dan angin kencang,” kata Abdul Muhari di Jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurutnya, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau yang berpotensi memicu kekeringan di sejumlah daerah.
Karena itu, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan secara simultan dinilai penting agar dampak bencana pada masa peralihan cuaca tidak menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi kering, BNPB memberikan perhatian khusus terhadap meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.
Hingga 20 Mei 2026, luas area terdampak karhutla di wilayah tersebut tercatat mencapai 3.474,74 hektare.
BNPB menyebut operasi pemadaman terus dilakukan secara terpadu melalui kombinasi operasi udara dan darat dengan dukungan berbagai instansi lintas sektoral.
Selain di Riau, upaya penanganan karhutla juga dilakukan di Aceh. Petugas gabungan bergerak cepat memadamkan kebakaran lahan seluas dua hektare di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, pada 25 Mei 2026.
Untuk mengurangi risiko bencana, BNPB mengimbau masyarakat rutin memantau informasi cuaca, menjaga kondisi kesehatan, membersihkan saluran air, serta menyiapkan tas siaga bencana untuk keluarga.
Langkah kesiapsiagaan tersebut dinilai penting guna menghadapi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu selama masa pancaroba dan musim kemarau berlangsung.
ANTARA









