BORNEONEWS, Jakarta – Jumlah investor pasar keuangan di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan. Hingga akhir 2025, total investor pasar modal tercatat mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut mencakup investor saham, reksa dana, surat utang hingga Surat Berharga Negara (SBN). Khusus investor saham aktif tercatat sebanyak 8,59 juta SID.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat jumlah konsumen aset kripto mencapai 20,19 juta orang per Desember 2025.
Pertumbuhan tersebut didominasi generasi muda. Lebih dari 54 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun, sementara sekitar 25 persen lainnya berada pada rentang usia 31 hingga 40 tahun.
Pesatnya perkembangan aplikasi investasi digital, maraknya edukasi keuangan di media sosial dan tren bullish pasar kripto disebut menjadi faktor utama meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pasar keuangan.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, kualitas literasi investasi masyarakat dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional berada di angka 65,43 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen.
Meski meningkat dibandingkan periode sebelumnya, angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko investasi dan menganalisis pasar secara mendalam.
Fenomena itu terlihat dari masih maraknya praktik investasi ilegal hingga perilaku investor yang lebih banyak dipengaruhi emosi dan tren media sosial.
Sebagian besar investor baru disebut masuk pasar karena dorongan FOMO atau fear of missing out tanpa memahami fundamental investasi secara memadai.
Data pasar modal juga menunjukkan dari lebih 20 juta SID, hanya sekitar 900 ribu hingga 1 juta investor yang aktif bertransaksi setiap bulan.
Sementara di sektor aset digital, OJK mencatat sekitar 72 persen investor kripto masih berada dalam posisi rugi hingga akhir 2025.
Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya investor pemula yang belum memahami manajemen risiko, strategi investasi maupun analisis fundamental.
Sebagian besar keputusan investasi bahkan masih dipengaruhi rekomendasi grup media sosial, konten singkat hingga tren sesaat.
Pengamat menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi mengajak masyarakat masuk ke pasar keuangan, melainkan memastikan investor memahami risiko dan instrumen investasi yang digunakan.
Karena itu, peningkatan literasi investasi dinilai harus berjalan seiring dengan pertumbuhan jumlah investor agar partisipasi masyarakat di pasar keuangan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.
ANTARA









