BORNEONEWS, Jakarta – Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dinilai mulai menunjukkan keretakan meski di permukaan kedua negara masih tampak solid sebagai sekutu utama di kawasan Timur Tengah.
Keputusan UEA keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 1 Mei 2026, di tengah memanasnya konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, disebut menjadi salah satu penanda friksi kedua negara semakin terbuka ke publik.
Padahal satu dekade lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) dikenal memiliki hubungan yang sangat erat.
Keduanya sempat bekerja sama menghadapi dampak Arab Spring pada 2010-an agar gelombang revolusi tidak memengaruhi stabilitas politik di kawasan Teluk.
Arab Saudi dan UEA juga pernah berada dalam satu barisan dalam konflik Yaman melawan kelompok Houthi sejak 2018 serta bersama-sama mengisolasi Qatar pada 2017 hingga 2021.
Namun hubungan mulai berubah ketika Arab Saudi di bawah kepemimpinan MBS berambisi menjadikan Riyadh sebagai pusat bisnis baru Timur Tengah, posisi yang selama ini identik dengan Dubai di UEA.
Saudi bahkan mewajibkan perusahaan internasional yang ingin mendapatkan proyek pemerintah untuk membuka kantor regional di Riyadh.
Menurut laporan New York Times pada 5 Mei 2026, hingga Maret 2026 sekitar 600 perusahaan multinasional telah mendirikan kantor regional di Riyadh.
Di sisi lain, UEA juga merasa dibatasi oleh kebijakan kuota produksi minyak OPEC yang dinilai terlalu dikendalikan Arab Saudi. Hal itu mendorong UEA memutuskan keluar dari organisasi tersebut.
Perbedaan kepentingan kedua negara juga terlihat dalam konflik Yaman dan Sudan.
Arab Saudi menginginkan pemerintahan stabil di Yaman demi menjaga keamanan kawasan, sedangkan UEA dinilai lebih mendukung kelompok-kelompok tertentu yang dianggap menguntungkan kepentingan geopolitik mereka.
Di Sudan, Saudi mendukung otoritas resmi negara, sementara UEA disebut mendukung kelompok milisi Rapid Support Force (RSF).
Perbedaan semakin tajam dalam menyikapi konflik Iran dengan AS dan Israel.
UEA dinilai lebih dekat dengan Israel, termasuk melalui kerja sama pertahanan dan teknologi pasca normalisasi hubungan diplomatik lewat Abraham Accord.
Sebaliknya, Arab Saudi memilih pendekatan yang lebih hati-hati dan mengedepankan jalur diplomasi terhadap Iran.
Mantan Kepala Intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal, bahkan menyatakan perang dengan Iran hanya akan membawa kehancuran bagi kawasan.
“Seandainya rencana Israel dalam memicu perang antara kita dan Iran itu berhasil, maka kawasan ini akan terjerumus ke dalam kehancuran dan malapetaka,” ujar al-Faisal dalam Arab News.
Saat ini, UEA disebut semakin membangun poros kerja sama dengan Israel, sedangkan Arab Saudi memperkuat hubungan dengan Mesir, Turki, dan Pakistan.
Pengamat menilai UEA berupaya membangun pengaruh geopolitik dan ekonomi baru di Timur Tengah dengan Dubai sebagai pusatnya, sementara Arab Saudi lebih fokus menciptakan stabilitas kawasan demi mendukung agenda transformasi ekonomi nasional mereka.
Meski demikian, hubungan kedua negara belum sepenuhnya putus. Keretakan tersebut dinilai masih bisa berubah tergantung dinamika politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah ke depan.
ANTARA









