JAKARTA –

BORNEONEWS, Samarinda – Hasil survei yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama pemerintah daerah dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menunjukkan habitat peneluran penyu di sejumlah pulau kecil di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, masih berada dalam kondisi hijau atau aman.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman mengatakan survei dilakukan di sejumlah kawasan penting, seperti Pulau Mataha, Bilang-bilangan, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman hingga Balikukup.

“Survei dilakukan untuk memantau habitat peneluran penyu, populasi menggunakan teknologi pesawat nirawak, serta persepsi masyarakat pesisir terhadap konservasi penyu,” ujarnya di Samarinda, Jumat, 29 Mei 2026.

Berau diketahui menjadi bagian penting bentang laut Sulu-Sulawesi yang termasuk kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Wilayah ini juga dikenal sebagai habitat utama penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Indonesia sekaligus jalur migrasi berbagai spesies laut bernilai ekologis tinggi.

Kegiatan survei tersebut mendapat dukungan Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) guna memperkuat pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat.

Selain pemantauan ekologi, tim survei juga menggali persepsi masyarakat pesisir terkait konservasi penyu. Sebanyak 75 nelayan dari Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, dan Biduk-Biduk ikut diwawancarai.

Hasilnya, tingkat kesadaran masyarakat terhadap perlindungan penyu tergolong tinggi. Sebanyak 98 persen responden mengetahui bahwa perburuan penyu merupakan tindakan ilegal.

Mayoritas nelayan juga mengaku masih sering menjumpai penyu di laut maupun di pantai sepanjang tahun, terutama penyu hijau dan penyu sisik. Mereka menilai populasi penyu mulai meningkat dibandingkan masa lalu berkat perlindungan hukum, pengawasan, dan kegiatan konservasi yang terus dilakukan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy mengatakan hasil pemantauan tersebut menjadi dasar penting dalam memperkuat pengelolaan kawasan konservasi di Berau.

“Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting tidak hanya bagi Kalimantan Timur, tetapi juga dunia. Habitat peneluran penyu di sejumlah lokasi masih sangat baik dan perlu terus dijaga melalui kolaborasi bersama masyarakat,” katanya.

Irhan menambahkan, pemerintah daerah terus mendorong penguatan pengawasan kawasan, pengelolaan wisata berkelanjutan, serta edukasi masyarakat guna menjaga keberlangsungan populasi penyu di Berau.

Dari 27 titik pengamatan yang disurvei, sebanyak 26 titik masuk kategori hijau atau sangat sesuai sebagai lokasi peneluran penyu. Lokasi tersebut dinilai memiliki karakteristik pantai yang mendukung, mulai dari jenis pasir yang sesuai, kemiringan pantai ideal, vegetasi alami, hingga minim gangguan manusia.

ANTARA